May 10, 2005

Nyanyian Langit dan Laut Biru


Nyanyian Laut – 1 (2005)

*catatan pengantar tidur


adakah kita mampu memetik buah kenangan
yang lahir dari pikiran dan keinginan?
sehari saja kuinginkan langit tak tergantung
tinggi.. begitu tinggi di ketinggian tempatmu
atau menepilah dari pandangan
agar dapat kukuak apa yang kau kandung
dan kupeluk apa yang telah kau lahirkan

rindumu adalah untaian anak-anak manis
yang setiap hari menggayuti leherku
menyekap
mendekap
membenamkanku di dasar kebiruan lautku
yang entah gelap entah dalam entah berdasar
menyeretku tenggelam

jika saja kau aku bernyanyi dalam sesang yang sepi
pasti akan kau dengar serenade
menghantarkan tidur kita dalam kelelapan
dan erang kegelisahan

kita selalu saja berjalan di dua sisi kehidupan yang berbeda
keinginan yang liar dalam dimensi khayal
dan ketakutan yang parau dalam kenyataan

hanya satu yang berjalan seiring bersama
rindu dan cinta yang bergelora!


Cilandak, 10 Mei 2005

Sehari... saja!

Jika ada sehari saja dimana aku bisa melepaskan semua atribut yang menyelimuti diriku, sehari dimana aku bisa menjadi diriku sesuai dengan keinginanku, sehari dimana tak ada kemarin dan hari esok, sehari dimana hari itu tak menjadi bagian dari sejarah masa lalu dan yang akan datang, dimana tak ada keterkaitan.. maka aku akan pergunakan hari ini untuk memelukmu!

Sehari... saja!

Karena aku sangat merindukanmu...

D Unforgotten

untuk: D Unforgotten (yang tak terlupakan)


sore ini aku ingin bercerita kepadamu
tentang kubah kesombongan yang tiba-tiba runtuh
bangunan yang selama ini kubangun
dan kuabadikan sebagai menara kemenangan
musnahnya kerinduanku tentang warna kita

kau aku lama tak bicara, tak apa
aku menerjang keheningan, meradang rupa
dan aku berpaling dari bayangan tentangmu
marah, menegang, geletar... merindu
tak kuabaikan gejolak memanggil gelisahku

dan sore ini aku tergugu duduk layu
ketika semua meluruh jatuh merapuh
meninggalkan suara sunyi sepi dan sesang yang panjang
kebisuan yang menyekap berbalut gelap
semua meremang hilang dan pekat

selain desir angin menggurat di nadiku
selalu ada namamu