Showing posts with label #Poems. Show all posts
Showing posts with label #Poems. Show all posts

Mar 10, 2015

Dimanakah Kehidupan Yang Sesungguhnya?



Di antara dahaga, yg membangkitkan rasa syukur
Tenggelam aku meresap lapar di nafasku bertafakur
"Sesungguhnya, aku tengah menapak jalan nuju akhir"
Sebersit bisik diantara sadar ajakku lebur berpikir

"Dunia ini hanyalah perhiasan yang membutakan
Demikian seperti yang kubaca di Al Furqan
Bahwa saat ini hanyalah sepenggal perjalanan
Hingga nanti kita menghadapi hisab di Yaumul Miizan

Maka, masihkah hati kita tak terbuka
Tentang dimana hidup kita yg sesungguhnya
Di antara nafas yang kerap berhembus sia-sia
Atau di antara jalan menuju pintu Neraka dan Syurga

Dan di antara lembar-lembar yg kusibak bertadarus
Kupeluk rahmat Sang Khalik tuk kugapai 
aroma Firdaus 


(Ramadhan 1432H)

-ramz-

Jun 27, 2014

Ibu, jika hari ini...

Ibu, jika suatu hari aku pergi mendahuluimu,
maka maafkanlah kesalahan-kesalahanku kepadamu, Ibu..
Dan doakan aku, agar Allah SWT ridho dan mengampuni dosa-dosaku.
Karena ridho Allah tergantung pada ridhomu, Ibu.
Agar dengan ridho Allah dan doamu, aku boleh menempati Jannah,
kumpul bersama-sama para leluhur dan Ayah, menantikanmu tiba
Beserta seluruh keluarga kita, anak dan cucu.

Tapi jika suatu hari engkau pergi mendahuluiku,
maka bawalah rasa sayangku bersama kepergianmu.
Sungguh aku telah berusaha untuk menjalankan kewajibanku
mengabdi kepadamu, Ibu.

Sampaikanlah salam pada sang Khaliq
jika engkau berkenan atas pengabdianku, Ibu.
Agar dengannya Allah SWT ridho menerimaku di Jannah,
dan kita bisa berkumpul kembali bersamamu dan Ayah
Sambil menanti saudara-saudaraku yang lain
beserta seluruh keluarga kita, anak dan cucu.

Dan jika aku memiliki waktu yang lebih lama bersamamu, Ibu,
maka aku akan curahkan seluruh kemampuanku
untuk selalu mengabdikan sisa usiaku untukmu.
Dan semoga Allah SWT menyaksikanku
dan ridho atas segala yang kulakukan bagimu.

Amiin ya Rabbal 'alamiin


Jumat, 27 Juni 2014
Lot 8, SCBD, Jakarta

Feb 20, 2012

Catatan Pagi Ini...

Sebuah kecupan singkat,
mampu menghentikan detik
dan waktu yang berjalan

Sebuah ciuman panjang,
seakan melepaskan kita
dari keberadaan dimensi ruang


(20 Feb 2012)

Jul 4, 2011

I Wish



If I could make a wish
I wish I could be with you
today and for the next million times
now and forever, yesterday and then
without the certain end

If I could make a plan
That would be I'll always beside you
today and for the next  million steps
nowhere else except beside you
sailing into an ocean blue

If some day my wish and my plan can not going thru
then let us try to make it happen
once we meet again some day in heaven
where we can walk down side by side
beneath the sky with the star and the moonlight
with all the bless given by the God

Some day that will come for sure


(4 July 2011)

Feb 23, 2011

hujan setelah hari itu (a poetry)


tak ada lagi hujan yang berarti setelah hari itu
selain kemeritik air di kaca jendela
karena kini tak ada lagi nyanyian rindu
dan pelangi yang dulu kerap berwarna

hujan setelah hari itu slalu kuabaikan
kecuali ketika keinginan keinginan mengusik
lahirkan baris demi baris tentang kenangan
tentang segalamu wahai gadisku nan cantik

tak 'kan ada lagi hujan
yang mengajakku melahirkan kerinduan
kecuali catatan-catatan
yang kian kuabaikan
yang kian kutepiskan


(Feb 2011)
*ketika hujan

Feb 9, 2011

Solitude 3


(sebuah catatan kesadaran:)


kuharap kau berada di tebaran bintang malam ini:
di rentang jarak perjalanan cahaya,
berselimut nebula..
ketika kudesiskan sebait rindu yang larut di udara
dan menyatu dengan dinginnya kabut
kemarau yang berpancaroba

malam ini kurekatkan mata hatiku
sepanjang waktu yang melata
pada keheningan yang bertahta
pada sorak-sorai yang tenggelam
pada sekat sekat ruang dimensi yang terjerat
kebimbangan antara keinginan dan penolakan;

merindumu atau melupamu pudar bersama waktu
diantara kenyataan dan khayalan,
ada terlihat lalu sirna dan lumat

seperti langit di gugusan bintang yang bergegas
menyongsong lembayung yang cerah,
dan pagi yang memerah:

mungkin harus kubenahi kesendirianku
tanpa melulu lagi lukisan tentangmu

kita tak perlu lagi saling merindu...


(9 Juli 2005)
*parung panjang, tengah malam

Monologue Untukmu – 2




barangkali kau tak pernah memperhatikan,
sisi lain dari kematian adalah keindahan
seperti rembulan yang bulat terang di tengah kelam
rekah oleh cabang-cabang pohon asam
yang mengering diambang kematian;
adakah lelapmu pernah memanggilku?

seperti ketika kesepian merekam rindu-rindu
tentangmu yang tak pernah henti berbinar
tiap kali mataku terjerat gemintang berpendar
malam berlalu tak pernah seperti dulu
ketika khayalku sibuk melukis bayangmu
ketika kenangan tentang kita berbuih
memenuhi ruang di benakku yang merepih

aku merindumu dan mati sunyi!
dan kerinduan ini adalah cerita kematian indah
tentang malam yang penuh warna
bukan cuma hitam!
bukan cuma kelam!
ketika getar di tubuhku selalu saja bersorak
tiap kali kudesiskan namamu..
masih ada cinta, selalu ada rindu!

mungkin jika kau perhatikan:
bulan yang sama lewat siluet kematian pepohonan
yang meranggas,
yang meratap lemasl,
maka akan kau temukan sisi keindahan suatu kematian
seperti aku menemukan keramaian kisahmu
di tengah kekosongan jiwaku

seperti aku yang tak pernah jemu menatapi bulan itu!


(9 Juli 2005)

Jul 9, 2010

Tiba-tiba Rindu Aku


tiba-tiba rindu aku

rindu mataku dulu kerap sembab
ketika aku tenggelam dalam sujud dalam doa
ketika tubuhku terguncang mengingat dosa
di lafal Quran seraya terisak tanpa sebab

tiba-tiba rindu aku

kemana gerangan jiwa yg dulu sering tuma'ninah
di tiap gerak ruku dan sujud dan i'tidal?
yang bergetar ketika azan berkumandang
dan betah merangkai dzikir sambil tenang tetirah

tiba-tiba rindu aku

karena aku kini tak lagi mampu menangis,
bahkan ketika jiwa berselimut najis
tak peduli meski detak iman kian halus menipis

seperti tak ada rasa takut meski aku kehilangan waktu
dalam ujub dan jumawa, hilang yang dulu tawadhu
makin aku tenggelam dalam sibuk yang tak berujung
gila memuja nafsu kebendaan kian menggunung

tiba-tiba rindu aku

Yaa, Rabb...
panggil aku
lagi, lagi, lagi
setiap hari, lima kali di awal waktu di jiwa yang suci
kembali ke kenikmatan di setiap nafas yang terhela
larut di kekhusyukan pelukMu ya Azza Wa Jalla
di dudukku,
di sujudku,
di rebahku; dan
di kelak matiku
seraya melafal kebesaran DzatMu,
Wahai... Dzat yang Maha Menyejukanku

Yaa, Rabb...

panggil aku
kembali bersama mereka yang khusnul khotimah
dan leburkan aku
kembali sebagaimana manusia yang fitrah
di lembar-lembar taubat nasuha
sebelum ajal mengajakku jalan bersama


(Juli 2010)