Aug 10, 2005

Sore Di Seputar Bulungan (2005)


Sore Di Seputar Bulungan (2005)

* sebuah catatan kerinduan


Malam masih muda. Langit masih terlihat memerah jingga di ujung barat sana. Aku baru saja mengambil tempat untuk duduk sambil mengamati kepulan asap yang beterbangan diterpa angin dari bilah-bilah standfan yang sengaja diarahkan ke udara. Udara terberangus aroma lezat bumbu ayam bakar yang menggelitik penciuman. Membuat lapar makin menggerus. Pesananku belum juga datang.

Hampir tak ada meja kosong. Ada sekitar dua puluh meja yang masing-masing cukup untuk berempat. Aku beruntung masih bisa mendapatkan tempat meski persis di pinggir jalan sekali. Bukan cuma satu dua kali orang lalu lalang di samping tempatku duduk. Sore menjelang malam begini tempat makan ini memang cukup ramai. Siapa, sih yang tidak kenal Ayam Bakar Ganthari? Meski jauh dari kesan nyaman, tapi tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung yang memang sudah jadi pelanggan tetapnya.

Tak berapa lama pesananku datang. Namun belum lagi puas menikmati aroma yang membangkitkan selera, ritual makan ayam bakarku terusik dengan dua orang wanita hampir separuh baya yang mendekati meja tempatku duduk. Memakai kebaya hampir lusuh karena seringkali terpakai, keduanya langsung saja duduk bersimpuh di samping mejaku. Yang satunya menenteng sebuah alat musik yang aku tak tahu persis apa, tapi mirip sejenis kecapi.

Dengan penuh khidmat, jari-jari si pemetik kecapi mulai menari. Sejurus kemudian, selantunan dentingan nada-nada pentatonik yang lahir dari petikan dawai kecapi itu mulai mengalun. Tak perlu waktu lama untuk menyihir dan membawa alam pikiranku larut dalam iramanya. Ditingkahi lengkingan pilu sang sinden, menyanyikan lagu (kalau boleh dibilang lagu) dalam bahasa jawa. Meski aku tak mengenal lagunya, tapi yang jelas iramanya sangat menyentuh.. Sepertinya lagu itu sendiri menceritakan sesuatu.. Tentang kerinduan. Ahh, entahlah.. hanya satu bait yang kuingat.. yen in tawang ono lintang..

Entah kenapa, pikiranku seperti terbang larut menjadi keheningan ditengah keramaian malam itu. Lalu sepi membuahkan ingatan tentangmu. Tentang bintang-bintang yang begitu kukagumi. Dan aku makin larut dalam kerinduan. Larut bersama iramanya yang makin mengikat. Seperti pikiranku yang makin terikat pada seraut wajah yang seketika menjelma. Wajahmu.

Dimanakah dia saat ini? Adakah dia merasakan apa yang tiba-tiba kurasakan kini? Masihkah ada getaran telepati yang dulu seringkali kita rasakan. Masa ketika kau selalu berkata 'hey, aku baru aja ingat kamu.. pas banget kamu telepon!?' Atau ketika kau tiba-tiba saja hadir melalui telepon atau sms-smsmu yang selalu membuatku tersenyum, tepat ketika aku tengah mengingatmu…

Masa itu seperti menguap ngelayap ditelan kegelapan yang maha luas, seperti waktu yang terlewat hilang terbang. Karena kini getaran itu makin hampir tak terasa, meski masih mampu mengusik. Namun tak lagi kita bisa bertukar kata. Getaran ini hanya semerta-merta menenggelamkanku ke dalam sepi. Sepi yang mati.

Getaran ini tak lagi mampu membuatku tersenyum dalam kehangatan. Tak ada lagi. Selain rasa sakit di dada yang tiba-tiba saja menyeruak, tiap kali aku mengingatmu. Merindumu.

Lagu itu akhirnya usai. Membebaskanku dari rindu yang membelenggu. Wanita itu bergeser ke meja yang lain setelah menerima selembar ribuan dari tanganku. Lalu menembangkan lagu-lagu lain yang entah kenapa terdengar seperti makin menyayat-nyayat hati dan perasaanku. Membuatku tak lagi merasakan lapar. Mematikan selera.

Aku bergegas membayar makanan yang tak sempat kuhabiskan, sambil melangkahkan kaki. Sementara pikiranku sibuk mengusir bayanganmu yang tak mau pergi.

Malam mulai meninggi.

9 Agustus 2005
blok m – bulungan

Aug 9, 2005

Monologue di Malam-malam Yang Lain...


Monologue Di Malam Yang Lain (2005)



Kita memang selalu bercakap-cakap dalam keheningan, di rentang malam yang menua, di tingkah semilir angin yang mendirinkan bulu roma, karena dalam keheningan segala bisikan dapat terdengar, serona bayang jelas terlihat, memeta rupa.

Seperti deretan bintang-bintang yang setia menemani ketika malam meninggi, seperti itu pula jengkal demi jengkal rupamu menari-nari di tiap bidang dan sudut yang kutelanjangi. Membuatku sia-sia dalam  kepicingan mata yang lelah menghindari sosok dan rupamu yang jelas terlukis di retina penglihatanku.

Dan kau, entah kusengaja dan kuharap atau setengah mati kuhindari, selalu saja memulai percakapan kita ditengah kebisuan yang melingkupi. Sepertinya kau berbisik padaku. Bertanya-tanya adakah aku tengah mengingatmu.

Hmm, adakah?

Dan aku.. Aku tak mampu lagi berdiri di tengah sadarku yang makin beku, di rentang antara mimpi dan terjagaku. Langit gelap dan bintang terang, tak pernah jemu menarikku menengadahkan kepala. Mencari di bintang mana mata kita selalu bercengkrama.. di rasi mana hati kita berbicara.

Oh, ya.. Aku memang masih merindumu. Kuakui itu, masih. Meski aku tak tahu lagi apakah masih pantas ada kata rindu untuk kita. Ataukah harus kita anggap sama sekali tak ada, sementara debar-debar hangat selalu saja mengusikku tiap kali namamu terlintas, sesingkat apapun.

Dan aku.. sepertinya malam tak 'kan pernah sepi dari percakapan denganmu. Monologue tentangmu.

Tak pernah...


(awal agustus 2005)

Aug 6, 2005

Agustus

Bulan Agustus sudah berlalu beberapa hari.. Tanpa terasa hari ini sudah tanggal 6. Wiih, tenggat waktu projectku tinggal 3 minggu lagi. Project bikin surprise buat my lady.

Agustus selalu menjadi bulan yang aku tunggu-tunggu.. Karena di bulan ini begitu banyak hal penting aku alami. Sebagai anak bangsa, bulan Agustus ini selalu menjadi moment yang paling berarti dalam menilai kembali sejauh mana kita merasakan arti kemerdekaan. Karena belakangan ini begitu banyak keprihatian yang bukan saja aku rasakan, tapi hampir seluruh anak bangsa di negeri ini. 

Ya, aku prihatin dengan perjalanan kemerdekaan negeri ini. Karena sadar atau pun tidak, negeri ini telah mengalami fase penjajahan baru dari apa yang dinamakan dunia global. penjajahan kapitalisme.

Secara sosio-ekonomi-kultural negeri ini telah 'terjajah'..

Ups, ahh... lupain dulu soal itu.. 

Yang jelas Agustus ini begitu banyak momen pribadi yang tidak bisa aku lupakan.. 

24 Agustus '03, hari ketika aku jadian dengan seseorang yg kemudian menjadi tunanganku pada 24 Agustus '04, lalu aku nikahi pada 24 Agustus '05.. Jadi bulan ini selalu istimewa! 

Uph, aku sampai hampir melupakan kalau Agustus ini juga merupakan bulan kelahiranku. Hihihihi.

Hm, aku harap project Agustus ini bisa selesai tepat waktu dan menjadi persembahan terbesarku untuknya di hari anniversary ke 10 nanti...

Semoga...