Today's on It's Me...
Dear Blogger... Ini ada sedikit oleh2 dari Milis Tetangga yang saya kunjungi.. Semoga bermanfaat!
Lagi-lagi Travel Warning
Oleh: Fauzan Al-Anshari
(Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia)
Travel warning! Lagi-lagi travel warning! Biasa, dari Amrik dan sekutu dekatnya, Aussie. Anehnya Kapolri Jenderal Sutanto mengaku belum menerima laporan akan ada aksi bom terhadap orang asing di Indonesia. Mengapa negara asing itu justru yang lebih tahu akan adanya serangan bom terhadap warganya? Mengapa mereka seenaknya mengekspose ke publik, bahwa warganya akan diserang teroris, sehingga perlu mengeluarkan travel warning agar warganya tidak ke Indonesia? Mengapa negara asing itu selalu membuat warning pada saat-saat tertentu yang sangat strategis?
Saya kira banyak orang mengikuti perkembangan mutakhir. Secara kronologi singkat dapat diceritakan begini: Freeport digugat, tragedi Abepura meletus, ExxonMobil dimenangkan tapi diancam hak angket oleh DPR, 'juragan' Condi dan Tony datang untuk meningkatkan investasi dan kerja sama membasmi teroris, 42 warga Papua mendapat temporary protection visa (TPV) di Australia, RI marah, dubes RI dipanggil pulang, perang karikatur SBY-Howard, dan travel warning dilansir. Inilah saat yang terbilang strategis. Pada saat yang sama, secara 'kebetulan', Ustadz Abu Bakar Ba'asyir akan mengakhiri masa penahanannya pada awal Juni 2006. Jadi, hemat saya, warning ini hanya sebuah conditioning untuk menciptakan situasi yang kondusif agar bom itu pantas diledakkan.
Adapun tujuan peledakan bom itu antara lain untuk mengalihkan isu intervensi AS dan Australia dalam sejumlah kasus di atas, dan untuk mendapatkan alasan yang dipaksakan demi memperpanjang penahanan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Kalau perlu sampai beliau wafat di penjara. Dengan demikian ada pembenaran terhadap tuduhan 'sarang teroris' sehingga dolar terus mengucur untuk meningkatkan kerja sama pembasmiannya. Konsisten
Kalau kita mau mereview kembali sejumlah bom yang meledak di Indonesia sejak bom Bali I (12 Oktober 2002), semuanya selalu didahului dengan travel warning. Anehnya bom-bom itu bisa lolos begitu saja: Meledak, merusak kenyamanan tidur nyenyak bangsa kita. Lebih aneh lagi, pejabat berwenang dalam otoritas keamanan di Indonesia justru cenderung memanfaatkan bom-bom ini untuk lebih meningkatkan represivitasnya terhadap sejumlah aktivis Muslim. Bahkan juga digunakan untuk menciptakan kondisi yang akhirnya memaksa DPR melegislasi regulasi yang represif.
Mengapa tidak pernah ada, misalnya, operasi keamanan ditujukan terhadap ribuan agen asing yang beroperasi di Indonesia. Saya masih ingat pernyataan Jenderal Ryamizard Ryacudu bahwa ada 60-an ribu agen asing bekerja di Indonesia, berpotensi besar menghancurkan bangsa ini.
Lihat saja, misalnya, latihan pemberantasan teroris oleh AL kita baru-baru ini. Terorisnya berbaju gamis dan berkafiyeh. Padahal tidak pernah ada satu kali pun perompakan di laut, misalnya, dilakukan oleh santri.
Mengapa operasi pemberantasan teroris tidak pernah di-setting, misalnya, menghadapi musuh dari Singapura yang sudah jelas mencuri pasir laut kita. Atau pasukan antiteror kita dipersiapkan untuk menghadapi musuh dari Selatan, seperti Australia yang sudah jelas sering menangkap dan menembaki para nelayan kita. Mengapa gambaran teroris itu diidentikkan dengan Muslim? Atau kita perlu terus terang saja: memang Muslim itu teroris, begitu? Sedangkan koruptor, pembalak liar, dan penjahat lainnya adalah sahabat yang harus diantar ke istana?
Saya juga heran, mengapa sejumlah bom yang lolos dari kepungan aparat itu tidak disebut sebagai kegagalan mereka dalam bekerja. Sehingga Dai Bachtiar (kapolri saat itu) tetap aman memegang jabatannya sampai lima tahun. Padahal, hampir setiap tahun Indonesia diguncang bom. Mengapa tidak dibiasakan mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban publik terhadap kegagalan kinerja para pejabat kita?
Membingungkan
Anda mungkin masih ingat pernyataan Kepala BIN, Syamsir Siregar, beberapa waktu lalu, bahwa modus operandi para teroris sudah berubah: tidak lagi pakai bom tapi penculikan atau pembunuhan pejabat publik. Seandainya sekarang para teroris itu balik lagi ke modus pengeboman, terus bagaimana nasib pernyataan Kepala BIN tersebut? Dicabut, dilupakan, atau dianggap angin lalu saja? Yang jelas, sampai sekarang tidak ada pejabat publik yang diculik atau dibunuh oleh teroris.
Sebetulnya kita bisa menanyakan kepada Pak Syamsir, siapa yang dimaksud dengan teroris yang sudah beralih 'profesi' tersebut. Kalau yang disebut teroris adalah seperti sejumlah tahanan di Cipinang, cirinya ada empat: jidat hitam, berjenggot, berbaju koko, dan bercelana congkrang. Tapi mungkin ada teroris lainnya, saya tidak tahu.
Cuma saya heran saja, sudah ratusan aktivis Muslim ditangkap bom terus saja 'menyalak', sementara pelaku pengeboman Pamulang sampai sekarang belum tertangkap. Apakah karena korbannya adalah Abu Jibril, aktivis MMI yang dianggap 'teroris' lalu pelakunya dibiarkan bebas berkeliaran? Kalau tidak ketemu di dunia, pasti ketahuan di akhirat nanti. Terus terang saya jadi bingung: apa definisi teroris sebenarnya?
Untuk menghilangkan kebingungan tersebut, MMI telah mengajak dialog terbuka kepada pihak yang paling berwenang menangani kasus terorisme yakni Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri. Namun sampai detik ini ajakan dialog ini belum disambut dengan mesra. Padahal Tujuan dialog itu adalah untuk transparansi kebijakan publik antara impelementasi penanganan terorisme di lapangan dengan upaya penegakan hukum di negara hukum. Terus terang, kalau ada bom, saya kebanjiran telpon. Saya tanya mengapa setiap ada bom selalu bertanya kepada MMI, padahal kami bukan pakarnya. Seolah-olah pertanyaan itu menggiring opini publik, bahwa peledakan bom itu terkait dengan aktivitas MMI, khususnya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Padahal beliau sudah diinapkan di 'hotel prodeo' sejak 28 Oktober 2002? Bagaimana logikanya, orang yang dipenjara harus bertanggung jawab terhadap peristiwa di luar penjara? Kalau demikian cara berpikir aparat untuk tetap menahan Ustad Abu, maka sampai kapan pun beliau tidak bisa bebas. Namun semua itu tak lepas dari izin Allah SWT.
Rekomendasi
Untuk mengantisipasi 'rencana' peledakan bom yang konon akan terjadi pada bulan-bulan ini, saya mengusulkan agar semua komponen bangsa harus bersatu untuk membentuk 'pagar betis' agar bom itu tidak jadi meledak. Sebab kalau meledak, situasi akan tambah kacau, perhatian publik akan beralih dari persoalan pokok bangsa kita, dan akhirnya orang yang tidak bersalah lagi-lagi jadi 'kambing hitam'.
Saya juga berpendapat, sebaiknya aparat berwenang aktif menanyakan langsung kepada pemerintah AS dan Aussie: di mana dan kapan bom itu akan diledakkan, serta siapa calon pelakunya. Kalau sudah tahu, segera saja ditangkap dan diproses secara hukum, diadili, tetapi tidak perlu disiksa. Kita jangan menjadi 'pasukan tukang jemput' info asing saja, tetapi harus lebih tahu dari mereka. Ini kan negara kita sendiri, masak kalah duluan. Dalam perspektif Islam, rencana jahat itu akan kembali kepada pembuatnya. ''Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana jahat mereka (maka) rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri'' (QS Fathir: 43)
Apr 11, 2006
Apr 4, 2006
About Married
Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Bicara soal 'getting married' memang selalu saja menarik, terlebih kalo berbicara dengan seseorang yang sedang menghadapi pernikahan. Tapi, keliatannya sore ini gw emang harus posting something about 'getting married'.. Hm, not bcos gw pakar or some one who has such a oh-so-wonderful marriage life.. Nggak gitu2 banget. Cuma entah kenapa, kok bisa2nya sore ini gw chatting sama bbrp netters yg obrolanya mengarah ke soal 'getting married'.. 1 diantaranya gw baca postingan temen.. which is.. this one Tata. Gw tahu postingan ini pas lagi chatting sama Dahlia..
And so gw lanjut chatting sama 3 org yang lain pulak secara bersamaan dan tiga2nya.. lucunya memiliki kesamaan.. which is being worried to get married soon. Tentunya dengan alasan yg berbeda-beda. But, d bottom line is.. umumnya keraguan tentang calon pasangan dan keraguan tentang gimana nanti kalo mrk married..
Well, I'm not in position to judge any of them.. but as long as I concern, kelihatanya mereka memiliki syndrome yang sama. Takut melihat sesuatu yang ada dibalik pintu or jendela yang membatasi dunia mrk saat ini dengan dunia pernikahan yang kelak akan mereka masuki (ala maakkk, bhs gw. well, kali ini serius dikit, deh! hehehe).. So, mrk takut melihat sesuatu yg mungkin ada dibalik pintu yg saat ini belum pernah mereka buka, atau takut mendapati sesuatu yang (mungkin selama ini udah terlanjur tertanam dalam benak mereka bahwa itu memang menakutkan) ada dalam ruangan yg notabene sama sekali belum mereka masuki.
Gw jadi teringat salah satu email yg pernah gw kirim ke Tata.. (sorry, lho, Ta, gw post lagi disini.. hak cipta ada pada gw 'kan? kekekekek).. So, tadi gw sempet ngomong sama Dahlia n dia bilang basi.. hehehe. Tapi, gak ada salahnya 'kan kalo gw post lagi disini..
Ini sekedar pandangan gw about the marriage life..
“Setiap org pasti punya view n opini yg beda2 soal pernikahan.. Menurut aku sendiri, aku melihat pernikahan itu analoginya sama dengan melukis bersama. Awal mula aku memutuskan nikah adalah karena aku melihat pernikahan itu adalah sebuah lukisan yang didalamnya penuh dengan goresan dan warna yang sangat menggugah hasrat untuk aku menyelami dan menikmati goresan dan warna tersebut.
Seiring waktu yang terus berjalan, lama2 aku dan pasangan semakin memahami bahwa pernikahan itu bukan semata2 lukisan yang didalamnya penuh dengan goresan dan warnya yang menggugah hasrat semata. Bahwa ada begitu banyak warna yang didalamnya mengandung makna yang beragam.. ada warna kesetiaan, warna tanggung jawab, warna cita2 yg ingin dibangun dan lain-lain.. dan masing-masing dari kita memiliki hak dan kebebasan untuk kita menuang dan menggoreskan apa yang kita suka agar lukisan itu menjadi sesuatu yang membuat kita nyaman.
Tapi karena pernikahan hakekatnya adalah penyatuan dua individu yang masing2 memiliki keinginan yang beragam, maka hak dan kebebasan kita harus toleransi dengan keinginan pasangan dalam menuangkan warna dan goresan yang lain, sesuai dengan keinginannya. Maka yang terbaik adalah komitmen dan keinginan yang sama untuk menyatukan warna dan goresan yang kiranya bisa menyatu, berpadu dan berbaur agar warna2 dan goresan2 yang tertuang dalam lukisan tersebut menjadi indah dipandang dan dinikmati oleh kedua belah pihak.
Maka aku memandang pernikahan itu adalah tentang melukis bersama, untuk dinikmati bersama dan ketika satu lukisan selesai, merupakan keinginan bersama dimana kita akan meletakkan lukisan tersebut. Baik buruknya lukisan, tentunya tergantung dari kita yang menuangkan warna dan goresan itu toh? Dari pada menggantungkan nasib ‘lukisan’ tersebut kepada tukang lukis atau tukang tatoo, akan lebih make sense kalo hasil akhir ‘lukisan’ itu tergantung pada kita yang melukisnya..
Seiring waktu yang terus berjalan, lama2 aku dan pasangan semakin memahami bahwa pernikahan itu bukan semata2 lukisan yang didalamnya penuh dengan goresan dan warnya yang menggugah hasrat semata. Bahwa ada begitu banyak warna yang didalamnya mengandung makna yang beragam.. ada warna kesetiaan, warna tanggung jawab, warna cita2 yg ingin dibangun dan lain-lain.. dan masing-masing dari kita memiliki hak dan kebebasan untuk kita menuang dan menggoreskan apa yang kita suka agar lukisan itu menjadi sesuatu yang membuat kita nyaman.
Tapi karena pernikahan hakekatnya adalah penyatuan dua individu yang masing2 memiliki keinginan yang beragam, maka hak dan kebebasan kita harus toleransi dengan keinginan pasangan dalam menuangkan warna dan goresan yang lain, sesuai dengan keinginannya. Maka yang terbaik adalah komitmen dan keinginan yang sama untuk menyatukan warna dan goresan yang kiranya bisa menyatu, berpadu dan berbaur agar warna2 dan goresan2 yang tertuang dalam lukisan tersebut menjadi indah dipandang dan dinikmati oleh kedua belah pihak.
Maka aku memandang pernikahan itu adalah tentang melukis bersama, untuk dinikmati bersama dan ketika satu lukisan selesai, merupakan keinginan bersama dimana kita akan meletakkan lukisan tersebut. Baik buruknya lukisan, tentunya tergantung dari kita yang menuangkan warna dan goresan itu toh? Dari pada menggantungkan nasib ‘lukisan’ tersebut kepada tukang lukis atau tukang tatoo, akan lebih make sense kalo hasil akhir ‘lukisan’ itu tergantung pada kita yang melukisnya..
Gitu deh!
Tapi gw ada satu analogi lain yg ga ada salahnya gw share disini.. Pernah melihat tempat yg gelap dari tempat lo berada yg kebetulan terang benderang? Pasti pernah.. Pasti ada dalam benak kita sesuatu yg entah apa tapi serem tiap kali melihat tempat gelap, katakanlah misalnya.. kebun, di malam hari, sementara kita sedang berada di beranda rumah. Semakin kita berusaha melihat kedalam kegelapan tersebut, maka makin kita merasa bahwa itu memang menyeramkan. Tapi coba hampiri, dekati atau masuki wilayah gelap itu.. Apa yg kita lihat? Dari pengalaman gw --kebetulan di belakang rumah masih ada sebidang tanah yg cukup serem kalo malem dilihat dari rumah gw-- ternyata ketika gw berada di tempat yg semula gw anggap serem itu.. nggak ada satu pun yg menyeramkan. Ketika mata kita beradaptasi dengan kegelapan, maka segala yang semula gak kelihatan, semuanya menjadi jelas terlihat meski cuma dibantu bias cahaya lampu dari kejauhan.
Begitu juga married.. Sebelumnya gw juga merasakan ketakutan itu dan menganggap begitu banyak hal 'mengerikan' bakal menanti gw ketika udah married nantinya. Tapi ternyata, semuanya menjadi lain ketika itu gw jalanin sendiri.
So, apa pun ketakutan yg ada yg bisa jadi penghambat loe ngambil keputusan buat married, let me tell you.. its nonsense! Itu semua cuma gambaran ketakutan yang kita bangun sendiri karena ketidak-tahuan kita akan apa yang akan kita hadapi sesugguhnya. Marriage is not a battle field inwhich an enemy is waiting to kill us. No! Its all depend on us, whether we choose to be a happy one or in reverse!
Meet Me in Horizon..
Today's on It's Me...
Meet Me in Horizon... yeaahh, Meet Me in Horizon.. kata-kata ini selalu mengiang-ngiang (kakakak, bahasa gw.. apa sih bahasa gaulnya mengiang-ngiang???).. hmm, wait.. mungkin yang enak gini.. 'kata-kata ini selalu terngiang-ngiang'??? hmm, maksudnya 'ngiang' apa ya?? halaahh, kenapa gak 'ternguing-nguing' aja? yeaaa.. mending ini aja gw pake.. :p
Ya, kata-kata ini selalu saja ternguing-nguing.. eeh, lho!? kok, kayak bunyi nyamuk mo menclok di kepala aja, jadinya??? kakakakaka.. what ever bae'laaa.. Pokoke kata-kata 'Meet Me in Horizon' ini bbrp hari terakhir selalu aja spinning around in my mind (maafkan daku bumi pertiwi, daku lebih sreg dengan kosa kata ini..). Gw janji untuk menulis cerpen to someone about our story yg bercerita tentang sepasang manusia yg can only meet in d horizon.. Hanya bisa bertemu pada satu garis dimana pada garis itu mrk bisa lebur dan menyatu. Kenapa begitu? Ada ceritanya..! Makanya nanti aja gw ceritain.. kalo sekarang sama aja boong gw bocorin ide cerita..
Plot-nya udah ada.. Judulnya udah ada.. Tapi why all sudden I lost all those word as well as my imagination. Pikiran gw blank banget.. Bukan karena ga ada yg gw pikirin, tapi justru barangkali udah overload sampe2 otak gw nge-hang dan tiap kali mo dipake nulis, yang keluar cuma.. Error!!!
Liat aja, ni blog.. ampe2 kurus gak keurus krn jarang makan postingan.. Gak ada cerita seru... (wooyyy, bukan Cerita-Cerita Seru yang ada di website 17.com itu. Bukan... Ups!). Jadinya ni blog sepi pengunjung aka gak laku! Wakakakakkk.. emangnya dagangan, apa? :D:D:D
Huh, kayaknya gw harus hokus-pokus-fokus-voltus-pilatus lagi nih and ngucapin d magic word... sim salabim!!! biar jari n otak gw bisa singkron lagi merangkai kata demi kata agar bisa terjalin dengan indah.. (huahahaha.. ngebajak lirik orang pulak!! Alaaah, Ramz.. mo jadi ape, lo!?)
Mudah2an bisa gw selesain sebelum dia birthday! AYOOOO, GW BISAAA!!!! aaARRGGGhhHH!!!!!
Ciayo!
Meet Me in Horizon... yeaahh, Meet Me in Horizon.. kata-kata ini selalu mengiang-ngiang (kakakak, bahasa gw.. apa sih bahasa gaulnya mengiang-ngiang???).. hmm, wait.. mungkin yang enak gini.. 'kata-kata ini selalu terngiang-ngiang'??? hmm, maksudnya 'ngiang' apa ya?? halaahh, kenapa gak 'ternguing-nguing' aja? yeaaa.. mending ini aja gw pake.. :p
Ya, kata-kata ini selalu saja ternguing-nguing.. eeh, lho!? kok, kayak bunyi nyamuk mo menclok di kepala aja, jadinya??? kakakakaka.. what ever bae'laaa.. Pokoke kata-kata 'Meet Me in Horizon' ini bbrp hari terakhir selalu aja spinning around in my mind (maafkan daku bumi pertiwi, daku lebih sreg dengan kosa kata ini..). Gw janji untuk menulis cerpen to someone about our story yg bercerita tentang sepasang manusia yg can only meet in d horizon.. Hanya bisa bertemu pada satu garis dimana pada garis itu mrk bisa lebur dan menyatu. Kenapa begitu? Ada ceritanya..! Makanya nanti aja gw ceritain.. kalo sekarang sama aja boong gw bocorin ide cerita..
Plot-nya udah ada.. Judulnya udah ada.. Tapi why all sudden I lost all those word as well as my imagination. Pikiran gw blank banget.. Bukan karena ga ada yg gw pikirin, tapi justru barangkali udah overload sampe2 otak gw nge-hang dan tiap kali mo dipake nulis, yang keluar cuma.. Error!!!
Liat aja, ni blog.. ampe2 kurus gak keurus krn jarang makan postingan.. Gak ada cerita seru... (wooyyy, bukan Cerita-Cerita Seru yang ada di website 17.com itu. Bukan... Ups!). Jadinya ni blog sepi pengunjung aka gak laku! Wakakakakkk.. emangnya dagangan, apa? :D:D:D
Huh, kayaknya gw harus hokus-pokus-fokus-voltus-pilatus lagi nih and ngucapin d magic word... sim salabim!!! biar jari n otak gw bisa singkron lagi merangkai kata demi kata agar bisa terjalin dengan indah.. (huahahaha.. ngebajak lirik orang pulak!! Alaaah, Ramz.. mo jadi ape, lo!?)
Mudah2an bisa gw selesain sebelum dia birthday! AYOOOO, GW BISAAA!!!! aaARRGGGhhHH!!!!!
Ciayo!
Subscribe to:
Posts (Atom)