Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Yang paling menyenangkan adalah ketika kita tertawa dan tahu kenapa kita tertawa.. Either itu karena teman yang melakukan joke segar yg bikin kita haha-hihi, atau baca e-mail konyol yang emang bikin kita geli, atau ketika kita inget hal-hal lucu yang pernah kita alami dan seketika 'pop-up' tanpa kita sadari.. Kalau pun tidak sampai membuat kita tertawa, minimal bisa lah membuat kita menarik otot2 pipi kita ke belakang dan membentuk satu senyum simpul.. Tertawa itu memang menyenangkan.
Namun sebaliknya paling nyakitin ketika kita ngerasain marah tanpa bisa tahu sebabnya kenapa kita marah.. marah pada siapa.. atau marah terhadap apa? Gw gak ngerti kenapa, tapi itu yang gw rasa tiap kali gw nonton tipi belakangan ini. Kadang gw marah manakala gw menelusuri sejarah. Tentang sejarah kebodohan panjang yang dialami negeri ini dari zaman ke zaman. Kadang kala lain, gw bisa merasakan marah ketika tahu kejadian sebenarnya tentang peristiwa 9/11.. penyerangan terhadap menara kembar WTC di New York. Marah karena gw merasa selama ini udah jadi orang bego (karena dibego-begoin oleh sejarah yang dibelokin orang).. Marah karena TNI mengadakan latihan anti teror dengan mem-visualisasikan teroris dengan figure orang arab, memakai pakaian gamis dan kafiyeh (sejenis penutup kepala khas orang arab).. Apa maksudnya gitu? Apa memang melulu harus digambarkan bahwa teroris adalah arab?? dan mengarah ke satu agama tertentu???
Apa gwnya yang terlalu 'iseng banget mikir segala hal yang begituan' atau emang mrk org TNI/Pasukan anti teroris itu yang segitu blo'onnya sehingga ga mikir bwh ilustrasi yg kayak gitu itu bisa nyakitin segolongan tertentu? Apa pun itu, gw nyesel baca2 (tahu) berita soal kayak gitu krn lagi2 gw jadi marah.. Saking gak ngertinya gw bisa segininya memendam marah, gw sampe gak bisa tidur cepet belakangan ini? Gw gak tahu apa ada hubungannya.
Arrgh, sarap kali nih otak gw...
Apr 14, 2006
Apr 11, 2006
Maaf kalo ada yang tersinggung.. Isi kepala manusia emang gak seragam
Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Kita seringkali melihat kekerasan dari kaca mata lahir saja. Sesuatu yang dilakukan oleh FPI seringkali kita sebut sebagai kekerasan, karena terlihat secara fisik. Sementara kita lupa atau mungkin menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan secara halus atau dibungkus kode Etik hukum dan lain sebagainya, yang sebenarnya justru memiliki esensi kekerasan yang sangat berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang seringkali dilakukan oleh orang-orang yang justru mengerti hukum dan tahu apa itu 'anarkisme'..
Karena dalih kebebasan berekspresi atau kebebasan hukum, pihak berwenang dengan mudah begitu saja mengijinkan Playboy terbit dan melakukan 'kekerasan' atau 'kerusakan' terhadap moral. Kekerasan dibiarkan terjadi meski begitu banyak orang sadar yang menjerit ketakutan akan dampak yang ditimbulkan oleh budaya seronok dan vulgar terhadap perkembangan jiwa anak2 atau remaja yang bisa memperoleh akses mudah terhadap hal-hal seperti itu.
Karena kekayaan orang memang seringkali menghalalkan segala cara. Sehingga ketika melihat potensi pasar yang sudah pasti bakal memberikan keuntungan yang bertumpuk, orang seringkali mengabaikan 'aspek merusak' lain yang sesungguhnya lebih dahsyat dari pada kekerasan fisik yang berlangsung sesaat spt apa yang dilakukan oleh FPI.
Kita lupa atau menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan oleh bandar2 narkoba yang mengedarkan narkotika dan obat2 psikotropika lainnya yang banyak beredar di kafe2 atau tempat sejenis itu, namun terbelalak lebar ketika FPI atau orang2 yang sadar akan dampak narkoba tersebut melakukan syok terapi dengan masuk ke tempat2 peredaran narkoba, dan melihat itu sebagai kekerasan. Suatu kekerasan yang sebenarnya timbul karena hukum yang lemah atau dilemahkan.
Begitu juga kita melihat hal itu sebagai suatu kekerasan ketika FPI atau orang2 sadar spt mereka berusaha mensweeping peredaran Playboy dan majalah sejenisnya, karena secara fisik itu terlihat sebagai suatu tindak kekerasan, hingga lupa menengok seseorang yang sesungguhnya bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap moral tersebut, yakni Editor/Pimpinan Majalah Playboy (dan sejenisnya) yang asik menghitung keuntungan dan kekayaan yang bakal dikeruknya, waktu demi waktu, tanpa peduli kebobrokan moral yang makin terjadi juga dari waktu ke waktu.
Sebenarnya kita melihat dengan apa?
Dear Blogger...
Kita seringkali melihat kekerasan dari kaca mata lahir saja. Sesuatu yang dilakukan oleh FPI seringkali kita sebut sebagai kekerasan, karena terlihat secara fisik. Sementara kita lupa atau mungkin menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan secara halus atau dibungkus kode Etik hukum dan lain sebagainya, yang sebenarnya justru memiliki esensi kekerasan yang sangat berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang seringkali dilakukan oleh orang-orang yang justru mengerti hukum dan tahu apa itu 'anarkisme'..
Karena dalih kebebasan berekspresi atau kebebasan hukum, pihak berwenang dengan mudah begitu saja mengijinkan Playboy terbit dan melakukan 'kekerasan' atau 'kerusakan' terhadap moral. Kekerasan dibiarkan terjadi meski begitu banyak orang sadar yang menjerit ketakutan akan dampak yang ditimbulkan oleh budaya seronok dan vulgar terhadap perkembangan jiwa anak2 atau remaja yang bisa memperoleh akses mudah terhadap hal-hal seperti itu.
Karena kekayaan orang memang seringkali menghalalkan segala cara. Sehingga ketika melihat potensi pasar yang sudah pasti bakal memberikan keuntungan yang bertumpuk, orang seringkali mengabaikan 'aspek merusak' lain yang sesungguhnya lebih dahsyat dari pada kekerasan fisik yang berlangsung sesaat spt apa yang dilakukan oleh FPI.
Kita lupa atau menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan oleh bandar2 narkoba yang mengedarkan narkotika dan obat2 psikotropika lainnya yang banyak beredar di kafe2 atau tempat sejenis itu, namun terbelalak lebar ketika FPI atau orang2 yang sadar akan dampak narkoba tersebut melakukan syok terapi dengan masuk ke tempat2 peredaran narkoba, dan melihat itu sebagai kekerasan. Suatu kekerasan yang sebenarnya timbul karena hukum yang lemah atau dilemahkan.
Begitu juga kita melihat hal itu sebagai suatu kekerasan ketika FPI atau orang2 sadar spt mereka berusaha mensweeping peredaran Playboy dan majalah sejenisnya, karena secara fisik itu terlihat sebagai suatu tindak kekerasan, hingga lupa menengok seseorang yang sesungguhnya bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap moral tersebut, yakni Editor/Pimpinan Majalah Playboy (dan sejenisnya) yang asik menghitung keuntungan dan kekayaan yang bakal dikeruknya, waktu demi waktu, tanpa peduli kebobrokan moral yang makin terjadi juga dari waktu ke waktu.
Sebenarnya kita melihat dengan apa?
Pelacur dan Model Telanjang...
Dear Blogger...
Apa yang membedakan perempuan pelacur jalanan dengan perempuan model majalah porno? Mungkin tiap kita akan menjawab berbeda-beda sesuai dengan sisi pandang si penjawab. Oleh karenanya sah-sah saja jika saya ingin menjawab menurut pandangan saya sendiri.. So, menurut saya jawabannya adalah kelasnya..
IMHO, pelacur jalanan adalah perempuan yang menjajakan tubuhnya dan menawarkan sesuatu yang banyak orang sebut sebagai 'kenikmatan' (yang berhubungan dengan masalah seks, tentunya...) dengan bayaran yang relatif murah (karena sifatnya yang 'single user') sehingga pelacur kerap disebut sebagai 'wanita murahan'.
Sedangkan, perempuan model yang khusus berpose untuk majalah2 porno (i.e. Playboy, Cosmopolitan, FHM, MO dsj) adalah mereka yang menjajakan tubuhnya untuk 'dinikmati' oleh mata kamera dan juga mata si photographer dan ribuan atau jutaan 'penikmat tubuhnya' yang menikmati lewat media majalah atau internet (ketika photonya terpampang di internet), dan untuk itu mereka mendapatkan bayaran yang relatif mahal atau tinggi sehingga mereka kerap disebut sebagai 'wanita kelas atas'.
Perempuan pelacur seringkali kita sebut dengan sebutan yang sangat murah dan 'rendah' dengan mencantumkan kosakata 'pekerja seks komersial' sementara mereka yang mempertontonkan ketelanjangan atau ke-setengahtelanjangannya (atau seperempat, seperenam, seperdelapan, atau sepersekian telanjang) secara vulgar di ruang publik, mereka yang melenggak-lenggok memperlihatkan sesuatu yang sering orang bilang sebagai 'seni' berpose baik telanjang atau setengah telanjang itu tadi (dan seterusnya dan seterusnya), seringkali kita cantumkan kosakata yang begitu berharga yakni 'pekerja seni' atau dalam bahasa sehari2.. Model, entah itu model berbakat, model cantik dan sejenisnya, yang membuatnya makin menjadi... 'wanita mahal' atau wanita kelas atas.
Perempuan pelacur selamanya adalah tetap pelacur dan model 'panas' tadi (terlepas dari rumor tentang bisa tidaknya mereka dipakai.. atau sering disebut 'bispak') tetaplah disebut model, baik model 'thok maupun model plus-plus.
Seringkali kita membedakan perlakuan atau setidaknya cara pandang kita terhadap mereka. Betapa sering kita melihat, mendengar dan membaca pandangan miring tentang 'wanita murahan' atau perlakuan kurang manusiawi terhadap mereka. Pandangan sinis dan mencibir thd kehidupan mereka yang seringkali tanpa sungkan kita tunjukkan dalam bentuk sikap jijik. Wanita murahan itu sedemikian murahnya sehingga kadang kita merasa untuk mengingat mereka dengan menyebutkan nama mereka pun tidak pantas atau setidaknya.. tidak perlu. Karena mereka adalah wanita murahan, bukan individu yang memiliki nama.
Tapi tidak demikian halnya dengan mereka para model. 'Wanita-wanita kelas atas nan cantik' ini sadar atau tidak, begitu mendapatkan pengakuan dan diagung-agungkan, sehingga kadang kita merasa untuk menampilkannya dalam berita miring -- ketika mereka terlibat kasus pun -- adalah tidak pantas. Begitu tingginya penghargaan terhadap mereka sehingga mereka harus 'dihargai' dengan nilai rupiah yang kadang sangat mahal. Dan betapa mahalnya nilai padanan mereka untuk seseorang yang ingin atau berharap bisa 'memakai' wanita-wanita model ini.
Tapi pernahkah kita melihat satu kesamaan dari perempuan pelacur dan perempuan model tersebut??? Ya... Ada!! Yakni, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang 'bisa' dibeli. Wanita-wanita --terlepas dari murah atau mahal-- yang demi senilai Rupiah (hmm, atau mungkin sebagian dibayar dengan dollar) tersebut mau menggadaikan nilainya sebagai wanita yang terhormat dengan cara menuruti perintah atau permintaan atau apapun namanya (tuntutan skenario dan lain-lain) mereka yang telah (atau akan) 'membayar' mereka.
Pelacur mungkin lebih jujur dalam mengakui dirinya yang terpaksa melacur demi memenuhi tuntutan hidup yakni.. butuh makan, meski tidak sedikit dari mereka yang melacur demi memenuhi kebutuhan 'bergaya hidup' hedonis.. bahwa jaman makin memanjakan budaya narsis. Tapi toh, mereka tetaplah orang-orang yang jujur menelanjangi dirinya dan menceburkan diri dalam kehidupan yang dengan rela mereka akui sebagai dunia 'pelacuran'..
Lalu bagaimana dengan para model telanjang ini? Maaf, mereka memang bukan pelacur, guys.. Mereka adalah manusia2 yang mengaku 'bermartabat' kendati ketelanjangan tubuhnya telah berulang kali menggauli fantasi para laki2 yang haus kepuasan seks dan cukup untuk menggapai orgasmenya meski hanya dengan melucuti tiap inci gambar tubuhnya. Mereka yang meski sadar bahwa potret telanjang tubuhnya adalah obyek pemuas nafsu laki-laki, namun berdalih bahwa kesemuanya itu adalah tuntutan skenario, atau tuntutan keadaan, atau menyesuaikan kondisi... atau bentuk pengejawantahan atau ekspresi jiwa seni mereka yang memang tak mengenal batas (kalau tidak bisa dikatakan liar) atau.. atau.. ah, masih banyak dalih yang bisa mereka kemukakan tanpa perlu melihat kebenarannya.
Jadi jangan samakan mereka para perempuan lacur itu dengan para wanita model panas tersebut. Jangan pernah menyebut Andara Early, Olga Lydia, dan nama-nama lain yang ketelanjangan atau ke-setengahtelanjangannya bisa kita lihat dengan mudahnya hanya dengan meng'klik' sebuah tombol (begitu murahnya). Mereka bukanlah pelacur atau seseorang yang kehilangan martabat yang meski telah dengan gamblangnya memperlihatkan inci demi inci tubuh yang seharusnya (sesuai fitrah) hanya boleh diperlihatkan bagi orang berhak, karena itu adalah sebuah tuntutan profesi. Profesi yang menuntut mereka untuk telanjang, tanpa harus merasa sebagai pelacur.
Kesamaan mereka hanya satu... kita bisa menelanjangi (atau bahkan.. maaf.. meniduri) mereka dengan nilai tertentu, tak peduli berapapun harga yang mereka tetapkan untuk kita melihatnya telanjang dan (maaf).. telentang.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)
