Oct 16, 2008

Gila, panas banget hari ini...

Today on my journey:

Gila, panas banget hari ini...


Oct 16, 2008

Hari ini panasnya luar biasa,, luar biasa banget!! Well, sebenarnya disini panas itu hampir setiap hari, sih! Tapi rasanya hawa panas hari ini selalu terasa lebih panas membuatku lupa panas di hari kemarin. Seperti hari ini. Aku berdiam di kamar sejak siang. Karena nggak ada kegiatan apa-apa. Nggak ada kegiatan gini sebenarnya malah membuatku bete. 

Koran-korang sudah semua kubaca-baca untuk menghilangkan kejenuhan ini. Tapi bukannya berkurang bete, berita-berita yang ada malah membuatku semakin bete. Males rasanya membaca berita-berita beberapa minggu terakhir ini yang isinya rata-rata soal masalah krisis keuangan global. Malah membuatku makin jadi prihatin sendiri. 

Untunglah masih ada berita sports, terutama berita sepakbola yang sedikit banyak bisa membuatku seperti lupa masalah lainnya. Aku nggak tahu kenapa, tapi kalau sudah menggeluti berita seputar sepakbola, terutama sepak bola dunia, aku selalu enjoy. Masih ada yang lain sih, misalnya, F1, MotoGP. Hm, barangkali tiga macam berita sports itulah yang paling suka kubaca lebih dulu.

Setelah mulai jenuh dengan koran, aku coba menyalakan TV. Sayang, tadi pagi aku ketinggalan acara di TV One soal debat Capres Amrik. Padahal aku ingin banget nonton. Sialnya aku kesiangan bangun pagi ini. Itu pun karena dini hari tadi aku nonton live kualifikasi World Cup antara Belgia vs Spanyol. Untunglah kesebelasan jagoanku, Spanyol, menang 2-1. 

Aku nge-fans Spanyol karena terus terang disana ada Fernando Torres dan Xabi Alonso. Gw nge-fans mereka berdua karena mereka Notabene adalah pemain-pemain Liverpool. Yeap, aku memang fans berat Liverpool! Hehehehe... Hmm, correction.. Jadi kepalaku cuma ada 3 hal kali ya, Bola (Liverpool), Balap (MotoGP, F1, WRC dan dunia balap lainnya) dan Tennis.

Lumayan terhibur dengan TV, aku lalu nonton acara di TV One soal dunia hewan. Bosan dengan TV akhirnya aku kembali ke kamar. Ngutak-atik hp dan laptop. Ngerjain ini dan itu. Dan di kamar ini lah aku merasakan panasnya cuaca hari ini. Ampuun..! Di kamar ini serasa mandi sauna. Pakaianku sampe lepek padahal aku hanya ngutak-ngatik laptop dan nggak ngerjain aktifitas fisik yang menguras energi. Hehehehe, kalau begini terus mungkin bagus juga buat ngebakar lemak. Wahahahaha.

Duhh, kakiku.. Rasanya masih pada pegel-pegel bekas jalan (hiking) kemarin. Nanti malem aku mesti urut lagi, agaknya! Juga mesti siap-siap karena akan ada pertemuan lagi dengan tokoh2 masyarakat untuk membahas masalah pembebasan lahan.

Huh, kapan ya urusan pembebasan lahan ini bisa selesai. Capek, aku...


Oct 6, 2008

I just need some times to be alone…

I just don't understand, why I became so silent lately

I feel bored, talkless

Unsocialized

I really don't know

Perhaps, its about time for me to re-charge my soul

I just need some times to be alone, again

Sep 19, 2008

Lagu Rindu Yang Lain



Hampir 2 bulan saya menghabiskan waktu di desa Bean Heas ini. Jauh dari berbagai hal yang selama ini tak pernah saya bayangkan akan saya tinggalkan, untuk jangka waktu yang –bagi saya– cukup lama. Ya, tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan mengalami jauh dari rumah, jauh dari oran-orang yang saya cintai. My Bony, Memey, Romi, Raka dan my old mom alone serta orang-orang lain yang berarti bagi saya. Betapa saya sangat merindukan mereka.


Meski sms dan telepon tak pernah alpa setiap hari, namun itu semua tak cukup untuk menghapus kerinduan saya akan rumah yang selalu membuat saya menjadi 'homie man' .. senang jadi orang rumahan. Rindu kopi pagi racikan my Bony dan ketelatenannya yang tak pernah bosan selama lebih 13 tahun menyiapkan pakaian di pagi hari, atau menuangkan nasi saat makan malam, meski saya sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Ah, saya jadi tiba-tiba merindukan rumah saya yang berantakan karena seringnya anak-anak tetangga bermain di kamar Memey dan Romi. Atau ruang depan yang penuh berseliweran dengan kabel joystick tiap kali teman-teman Raka datang dan berebut main PS2.


Hampir dua bulan saya merasakan 'menjadi orang lapangan', mengalami ritme pekerjaan yang sama sekali jauh dari apa yang biasa saya rasakan selama ini. Begitu banyak 'kesibukan' yang harus saya lalui dengan pace yang anehnya –atau lucunya– berjalan sangat lamban, karena begitulah ritme yang berlaku disini. Waktu yang seakan berjalan di tempat, lingkungan yang sama sekali jauh dari kesan formil, dan interaksi dengan orang-orang desa yang biasa santai, membuat saya sempat merasa gagap untuk beradaptasi.


Sepertinya saya terjangkit penyakit rindu pada hal-hal yang biasa saya jalani di Jakarta. Rindu meja kerja saya yang juga selalu berantakan dengan berbagai berkas yang berserakan. Rindu jadwal kerja yang padat yang membuat saya sering lupa menghitung waktu. Rindu kemacetan jalan yang sebelumnya sering membuat saya selalu menggerutu. Rindu menyalip-nyalip kendaraan ketika saya sedang buru-buru. Rindu suara tak-tuk sepatu ketika saya harus melangkah cepat, beredar dari satu meja ke meja yang lain untuk satu keperluan tertentu, atau sekedar ber-hai-hai ria dengan teman-teman di kantor. Rindu wajah imut sang resepsionis yang rajin melontarkan senyumnya yang berlesung dan manis, dan wajah sangar security yang rajin menyapa saya dengan sopannya, setiap pagi.


Duh, saya jadi teringat mie ayam Sumbangsih dengan baksonya yang legit dan membuat saya selalu memesan ekstra, pun masakan bu Kantin belakang yang menunya ala masakan rumah. Walahh, saya jadi ingat.. saya belum melunasi bon makan yang sudah menunggak sebulan lalu. Hahahaha... Sabar ya, bu. Hm, ngomong soal makan, saya jadi ingat juga dengan kantin di kantor seberang yang suasananya bikin saya betah berlama-lama menghabiskan waktu membaca buku selepas makan siang. Biasanya saya mengambil posisi tempat duduk di bagian beranda dengan pemandangan halaman rumput, dan angin sepoy-sepoy yang membuat daun-daun pohon gemerisik. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa membuat saya terusik dan mengalihkan mata dari halaman demi halaman buku yang saya baca. Unless, ceweq2 yang makan di kantin ini yang memang sayang untuk diabaikan begitu saya. Mungkin itu satu hal lain yang sebenarnya, yang membuat saya betah berlama-lama. Hahahaha... Just kidding!


Well, saya harap sebelum Idul Fitri ini bisa tercapai kesepakatan antara saya dengan warga masyarakat disini untuk urusan pembebasan lahan. Saya pikir, mereka mulai sedikit bersikap lunak. Mungkin perlu sedikit sentuhan persahabatan dan negosiasi dari hati ke hati agar mereka bisa menerima penawaran saya, dan merasa yakin bahwa kehadiran perusahaan pertambangan di wilayah mereka tidak akan membawa dampak yang merugikan, terutama dari segi dampak lingkungan.


Barangkali proses negosiasi yang mulai tidak terlalu alot ini juga yang membuat saya sedikit banyak mulai bisa memikirkan hal lain hingga saya terbawa nuansa menjelang Idul Fitri dan membuat saya tiba-tiba ingat semua hal yang saya tinggalkan di Jakarta sana. Yah, pikiran saya mulai kendur dan tak setegang minggu-minggu kemarin ketika proses sosialisasi dan negosiasi awal berjalan, dimana warga masyarakat masih bersikap apriori dan tak menerima kehadiran kami disini.


Ah, tak sabar rasanya menanti pulang... dan menuntaskan segala rindu yang masih menggantung di sana, di bawah langit Jakarta.


Semoga saya bisa segera pulang dan selamat sampai rumah. Semoga...




Bean Heas, 20 September 2008