Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Apa yang paling jauh namun juga sekaligus paling dekat dengan kita? Wise man once ever said, bahwa itu adalah.. masa lalu. Sehari saja kita tinggalkan hari ini, maka kita tak akan pernah lagi bisa kembali ke hari yang kita tinggalkan itu, bahkan untuk mendekatinya sekalipun. So, nikmati hari ini.. nikmati waktu demi waktu dimana kita berada saat ini. Namun juga hati-hati, karena apa pun yang indah dan menyenangkan yang kita nikmati hari ini, akan jadi sesuatu yang menyakitkan di keesokan hari. Karena hari ini akan menjadi masa lalu. Dan semua yang menjadi masa lalu, yang tak mungkin lagi kita raih karena tertinggal makin jauh, ironisnya akan selalu menjadi bagian terdekat dari kehidupan kita.. Masa lalu akan melekati kita ketika dia menjadi... kenangan.
Adakah yang lebih sulit dari pada menghapus kenangan? Mematikan kenangan? Memusnahkan kenangan? Adakah yang bisa melupakan kenangan ketika mencintai seseorang namun orang itu tak ada dalam kekinian kita, menjadi bagian dari hari ini yang kita jalani? Mungkin kita bisa memberikan penyangkalan terhadap diri kita sendiri bahwa kita tidak pernah bisa melupakan kemarin.. masa lalu. Kenangan! Karena kenangan semenyakitkan apa pun akan selalu menjadi bayangan, lekat dan erat dengan salah satu bagian dari kehidupan kita.
Dan kenangan itu pula yang tiba-tiba saja hadir lagi dan sukses menghadirkan satu rasa yang sering orang bilang.. nyakitin banget! Entah apakah karena selama ini memang gak pernah hilang dari alam bawah sadar gw, atau memang udah paten mengisi bagian dari memori jangka panjang gw, lagi-lagi gw terusik dengan orang yang sesungguhnya ingin gw tempatkan jauuuh di belakang masa lalu. Entah apakah karena tanggal 13 April kemarin itu memang mengusik dan membawa pikiran gw jauh ke masa dua tahun yang lalu (13 april 2004) tanpa gw sadari, atau memang gw yang menganggap bahwa hari itu memang sangat istimewa, sehingga malam itu dia hadir lagi mengusik dan mengisi benak gw dengan 'the whole her' dalam bentuk siluet mimpi.
Aaarrgh, sepertinya baru kemarin gw ngerasain satu hari dimana gw ingin agar hari itu gak pernah terjadi pergantian waktu. Satu hari dimana gw ingin segalanya menjadi diam dan mati tanpa pergerakan, tanpa peralihan. Tanpa ada detik yang bergulir, tanpa ada matahari yang tergelincir. Sepertinya baru kemarin gw ngerasain 'hari itu'.. kebersamaan kali pertama itu.
Damn you! Damn you for being so unforgetable... not even until now! Damn you!!! Damn April the 13th...
Apr 14, 2006
MARAH... MARAH PADA SIAPA? TERHADAP APA?
Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Yang paling menyenangkan adalah ketika kita tertawa dan tahu kenapa kita tertawa.. Either itu karena teman yang melakukan joke segar yg bikin kita haha-hihi, atau baca e-mail konyol yang emang bikin kita geli, atau ketika kita inget hal-hal lucu yang pernah kita alami dan seketika 'pop-up' tanpa kita sadari.. Kalau pun tidak sampai membuat kita tertawa, minimal bisa lah membuat kita menarik otot2 pipi kita ke belakang dan membentuk satu senyum simpul.. Tertawa itu memang menyenangkan.
Namun sebaliknya paling nyakitin ketika kita ngerasain marah tanpa bisa tahu sebabnya kenapa kita marah.. marah pada siapa.. atau marah terhadap apa? Gw gak ngerti kenapa, tapi itu yang gw rasa tiap kali gw nonton tipi belakangan ini. Kadang gw marah manakala gw menelusuri sejarah. Tentang sejarah kebodohan panjang yang dialami negeri ini dari zaman ke zaman. Kadang kala lain, gw bisa merasakan marah ketika tahu kejadian sebenarnya tentang peristiwa 9/11.. penyerangan terhadap menara kembar WTC di New York. Marah karena gw merasa selama ini udah jadi orang bego (karena dibego-begoin oleh sejarah yang dibelokin orang).. Marah karena TNI mengadakan latihan anti teror dengan mem-visualisasikan teroris dengan figure orang arab, memakai pakaian gamis dan kafiyeh (sejenis penutup kepala khas orang arab).. Apa maksudnya gitu? Apa memang melulu harus digambarkan bahwa teroris adalah arab?? dan mengarah ke satu agama tertentu???
Apa gwnya yang terlalu 'iseng banget mikir segala hal yang begituan' atau emang mrk org TNI/Pasukan anti teroris itu yang segitu blo'onnya sehingga ga mikir bwh ilustrasi yg kayak gitu itu bisa nyakitin segolongan tertentu? Apa pun itu, gw nyesel baca2 (tahu) berita soal kayak gitu krn lagi2 gw jadi marah.. Saking gak ngertinya gw bisa segininya memendam marah, gw sampe gak bisa tidur cepet belakangan ini? Gw gak tahu apa ada hubungannya.
Arrgh, sarap kali nih otak gw...
Dear Blogger...
Yang paling menyenangkan adalah ketika kita tertawa dan tahu kenapa kita tertawa.. Either itu karena teman yang melakukan joke segar yg bikin kita haha-hihi, atau baca e-mail konyol yang emang bikin kita geli, atau ketika kita inget hal-hal lucu yang pernah kita alami dan seketika 'pop-up' tanpa kita sadari.. Kalau pun tidak sampai membuat kita tertawa, minimal bisa lah membuat kita menarik otot2 pipi kita ke belakang dan membentuk satu senyum simpul.. Tertawa itu memang menyenangkan.
Namun sebaliknya paling nyakitin ketika kita ngerasain marah tanpa bisa tahu sebabnya kenapa kita marah.. marah pada siapa.. atau marah terhadap apa? Gw gak ngerti kenapa, tapi itu yang gw rasa tiap kali gw nonton tipi belakangan ini. Kadang gw marah manakala gw menelusuri sejarah. Tentang sejarah kebodohan panjang yang dialami negeri ini dari zaman ke zaman. Kadang kala lain, gw bisa merasakan marah ketika tahu kejadian sebenarnya tentang peristiwa 9/11.. penyerangan terhadap menara kembar WTC di New York. Marah karena gw merasa selama ini udah jadi orang bego (karena dibego-begoin oleh sejarah yang dibelokin orang).. Marah karena TNI mengadakan latihan anti teror dengan mem-visualisasikan teroris dengan figure orang arab, memakai pakaian gamis dan kafiyeh (sejenis penutup kepala khas orang arab).. Apa maksudnya gitu? Apa memang melulu harus digambarkan bahwa teroris adalah arab?? dan mengarah ke satu agama tertentu???
Apa gwnya yang terlalu 'iseng banget mikir segala hal yang begituan' atau emang mrk org TNI/Pasukan anti teroris itu yang segitu blo'onnya sehingga ga mikir bwh ilustrasi yg kayak gitu itu bisa nyakitin segolongan tertentu? Apa pun itu, gw nyesel baca2 (tahu) berita soal kayak gitu krn lagi2 gw jadi marah.. Saking gak ngertinya gw bisa segininya memendam marah, gw sampe gak bisa tidur cepet belakangan ini? Gw gak tahu apa ada hubungannya.
Arrgh, sarap kali nih otak gw...
Apr 11, 2006
Maaf kalo ada yang tersinggung.. Isi kepala manusia emang gak seragam
Today's on It's Me...
Dear Blogger...
Kita seringkali melihat kekerasan dari kaca mata lahir saja. Sesuatu yang dilakukan oleh FPI seringkali kita sebut sebagai kekerasan, karena terlihat secara fisik. Sementara kita lupa atau mungkin menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan secara halus atau dibungkus kode Etik hukum dan lain sebagainya, yang sebenarnya justru memiliki esensi kekerasan yang sangat berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang seringkali dilakukan oleh orang-orang yang justru mengerti hukum dan tahu apa itu 'anarkisme'..
Karena dalih kebebasan berekspresi atau kebebasan hukum, pihak berwenang dengan mudah begitu saja mengijinkan Playboy terbit dan melakukan 'kekerasan' atau 'kerusakan' terhadap moral. Kekerasan dibiarkan terjadi meski begitu banyak orang sadar yang menjerit ketakutan akan dampak yang ditimbulkan oleh budaya seronok dan vulgar terhadap perkembangan jiwa anak2 atau remaja yang bisa memperoleh akses mudah terhadap hal-hal seperti itu.
Karena kekayaan orang memang seringkali menghalalkan segala cara. Sehingga ketika melihat potensi pasar yang sudah pasti bakal memberikan keuntungan yang bertumpuk, orang seringkali mengabaikan 'aspek merusak' lain yang sesungguhnya lebih dahsyat dari pada kekerasan fisik yang berlangsung sesaat spt apa yang dilakukan oleh FPI.
Kita lupa atau menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan oleh bandar2 narkoba yang mengedarkan narkotika dan obat2 psikotropika lainnya yang banyak beredar di kafe2 atau tempat sejenis itu, namun terbelalak lebar ketika FPI atau orang2 yang sadar akan dampak narkoba tersebut melakukan syok terapi dengan masuk ke tempat2 peredaran narkoba, dan melihat itu sebagai kekerasan. Suatu kekerasan yang sebenarnya timbul karena hukum yang lemah atau dilemahkan.
Begitu juga kita melihat hal itu sebagai suatu kekerasan ketika FPI atau orang2 sadar spt mereka berusaha mensweeping peredaran Playboy dan majalah sejenisnya, karena secara fisik itu terlihat sebagai suatu tindak kekerasan, hingga lupa menengok seseorang yang sesungguhnya bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap moral tersebut, yakni Editor/Pimpinan Majalah Playboy (dan sejenisnya) yang asik menghitung keuntungan dan kekayaan yang bakal dikeruknya, waktu demi waktu, tanpa peduli kebobrokan moral yang makin terjadi juga dari waktu ke waktu.
Sebenarnya kita melihat dengan apa?
Dear Blogger...
Kita seringkali melihat kekerasan dari kaca mata lahir saja. Sesuatu yang dilakukan oleh FPI seringkali kita sebut sebagai kekerasan, karena terlihat secara fisik. Sementara kita lupa atau mungkin menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan secara halus atau dibungkus kode Etik hukum dan lain sebagainya, yang sebenarnya justru memiliki esensi kekerasan yang sangat berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang seringkali dilakukan oleh orang-orang yang justru mengerti hukum dan tahu apa itu 'anarkisme'..
Karena dalih kebebasan berekspresi atau kebebasan hukum, pihak berwenang dengan mudah begitu saja mengijinkan Playboy terbit dan melakukan 'kekerasan' atau 'kerusakan' terhadap moral. Kekerasan dibiarkan terjadi meski begitu banyak orang sadar yang menjerit ketakutan akan dampak yang ditimbulkan oleh budaya seronok dan vulgar terhadap perkembangan jiwa anak2 atau remaja yang bisa memperoleh akses mudah terhadap hal-hal seperti itu.
Karena kekayaan orang memang seringkali menghalalkan segala cara. Sehingga ketika melihat potensi pasar yang sudah pasti bakal memberikan keuntungan yang bertumpuk, orang seringkali mengabaikan 'aspek merusak' lain yang sesungguhnya lebih dahsyat dari pada kekerasan fisik yang berlangsung sesaat spt apa yang dilakukan oleh FPI.
Kita lupa atau menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan oleh bandar2 narkoba yang mengedarkan narkotika dan obat2 psikotropika lainnya yang banyak beredar di kafe2 atau tempat sejenis itu, namun terbelalak lebar ketika FPI atau orang2 yang sadar akan dampak narkoba tersebut melakukan syok terapi dengan masuk ke tempat2 peredaran narkoba, dan melihat itu sebagai kekerasan. Suatu kekerasan yang sebenarnya timbul karena hukum yang lemah atau dilemahkan.
Begitu juga kita melihat hal itu sebagai suatu kekerasan ketika FPI atau orang2 sadar spt mereka berusaha mensweeping peredaran Playboy dan majalah sejenisnya, karena secara fisik itu terlihat sebagai suatu tindak kekerasan, hingga lupa menengok seseorang yang sesungguhnya bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap moral tersebut, yakni Editor/Pimpinan Majalah Playboy (dan sejenisnya) yang asik menghitung keuntungan dan kekayaan yang bakal dikeruknya, waktu demi waktu, tanpa peduli kebobrokan moral yang makin terjadi juga dari waktu ke waktu.
Sebenarnya kita melihat dengan apa?
Subscribe to:
Posts (Atom)