May 31, 2006

Aku, kau dan tahun-tahun yang akan datang

Today's on It's Me...


Selasa sore. Di Tamani Cafe Melawai. Begitu banyak yang kita bicarakan sore itu. Begitu banyaknya hingga kita merasa waktu seperti berlari begitu cepat. Seakan baru saja kita memesan makan siang kita yang terlambat karena terlalu asiknya kita bicara, tahu-tahu waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Kamu harus segera pulang, begitu juga aku.

Hampir 1,5 tahun lamanya kita menghindari perjumpaan dan membiarkan hari demi hari berlalu, memendam keinginan untuk berjumpa yang begitu menggebu. Menatap dalam di matamu, aku seperti dihadapkan pada sebuah buku yang didalamnya begitu jelas dapat kubaca satu demi satu. Aku seperti melihat hari demi hari yang terlewat dimana aku berharap aku menjadi bagian dari hari-hari yang telah kau lewati. No, aku bukan sedang menyesali masa lalu. Aku rasa itu memang cuma sekedar harapanku, menjadi bagian dari dunia yang saat ini kau geluti, menjadi bagian dari hari-hari yang sedang dan akan kau jalani.

Uff, aku baru saja berlaku egois. Agaknya aku lupa memikirkan siapa aku dan siapa dia. Lupa bahwa ada orang yang selalu setia menemaniku, dan ada seseorang yang sesungguhnya memilikimu. Seseorang dengan siapa sesungguhnya kita tengah menjalani hari yang normal, dan dengan siapa kita akan menjalani waktu yang akan datang.

Dan sore itu kita bicara banyak tentang masa lalu. Hmm, masa lalu. Tapi, yeah... It's all about the past. Hanya masa lalu. Aku tiba-tiba disadarkan oleh kenyataan bahwa sesungguhnya hanya ini yang kita miliki. Masa lalu. Sesuatu yang sesungguhnya harus kita kuburkan dalam-dalam, dan kita tempatkan pada apa yang kita sebut 'lupakanlah!'.

Apa yang sesungguhnya terjadi denganku? Dengan kita? Disaat aku mulai menemukan apa yang dulu hilang, disaat aku mulai mendapatkan apa yang dulu tak pernah bisa kuraih, tiba-tiba disaat yang sama aku dihadapkan pada kesadaran tentang Aku, kau dan tahu-tahun yang akan datang.

Ya, kemana arah yang kita tuju ini sebenarnya. Andai kita menutup mata tentang apa yang terjadi di sekitar kita, andai kita mengabaikan semua yang kita miliki saat ini, gerangan apa yang akan terjadi dengan kita? Apa terjadi dengan Aku, kau dan tahun-tahun yang akan datang???

May 29, 2006

Tentang Mimpi















Today's on It's Me...

Jika mimpi adalah bagian dari pikiran liarku yang mengendap dan mengemuka dari alam bawah sadarku, maka aku akan membiarkan setiap mimpi-mimpi yang kualami itu berlalu.. dan menganggapnya sebagai sekedar satu rangkaian gambar2 pita seluloid yang menghiasi pikiranku ketika aku tertidur, dan hilang lenyap tak berbekas ketika aku terjaga. Tak berarti apa-apa.

Tapi jika mimpi adalah bagian dari kejadian-kejadian yang kualami dan berubah menjadi ingatan yang mengendap dalam pikiranku, atau bagian dari keinginan-keinginan yang selalu kupendam dan tak kubiarkan menjadi sesuatu yang bisa kuekspresikan secara sadar, maka haruskah kubiarkan rangkaian itu berlalu dan sirna seiring hadirnya kesadaranku? Seperti jika kau selalu hadir dan menjelma menjadi bagian utama dari mozaik mimpiku yang selalu saja tak beraturan, tak pernah kusadari kapan ia bermula dan kapan akan berakhir. Apakah ini bagian dari keinginanku yang tak pernah bisa kusingkirkan.. bahwa aku merindukanmu.

Seperti aku yang tak bisa memahami dari bagian mana mimpi itu tercipta, aku juga tak bisa menyikapi mimpi yang memicu rindu ini hadir lagi dan lagi menggangguku (atau menjadi sesuatu yang sesungguhnya kunikmati???).. Apakah harus kukabarkan tentang kehadiranmu dimimpiku, atau kuabaikan dan hilang bersama waktu?

May 19, 2006

About Luv

Today's on It's Me...


Belum pernah aku merasa sedekat ini dengan dia. Dekat sekali. Dekat yang memiliki pengertian dua hal, yakni dekat dalam arti harfiah. Betapa wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Jarak yang tersisa tinggal bilangan senti. Begitu dekatnya hingga aku bisa merasakan nafasnya, menikmati setiap detil wajahnya. Mata yang ikut bicara tiap kali dia berkata-kata, dan mulut mungilnya yang tak henti2 menebar senyuman. Never been that close.
Ah, semoga dia tidak menyadari ada rasa dan keinginan yang berkecamuk dalam diriku. Keinginan yang mungkin memalukan. Hampir saja aku melakukan kebodohan memenuhi keinginanku yang nakal untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungilnya, karena daya tarik yang begitu kuat menyaksikan bibir mungil itu lincah berceracau. Ufff.. hampir. Jika saja aku tidak segera menarik diri dan menjauh. Rasa dan keinginan itu pasti akan terus membuncah dan membuatku nekat.