Sep 16, 2005

Kepada Awan Yang Berarak




Kepada Awan Yang Berarak,

Dimanakah cinta seharusnya tumbuh dan hidup? Apakah dalam dua ruang hati yang selalu terisi dan terikat oleh hidup dan cerianya percakapan, dan kelembutan tatapan mata yang saling bersambut? Atau di ruang hati yang terekat oleh setiap sentuhan yang disengajakan? Atau dua hati yang menyatu karena kebersamaan seiring waktu yang berjalan?

Kalau memang demikian, lalu apa yang terjadi di antara kita? Kita begitu jauh terbatas oleh ruang dan waktu. Tak ada bahasa tatap mata yang kita ucapkan untuk menghangatkan kita. Juga tidak sentuhan yang saling memanjakan ruas-ruas di permukaan kulit kita. Atau juga jalinan waktu yang kita rajut bersama-sama. Tidak ada. Karena aku sibuk dengan riak gelombang, dan kau sibuk melayang di ketinggian.

Yang ada hanya rentang waktu yang panjang yang berisi detik-detik dimana aku menunggumu, dan kau mengingatku. Sedang waktu seperti tak pernah beranjak dan diam membatu. Sehari seperti berbulan, seminggu seperti berwindu-windu. Begitu deras rindu membuncah, menyergap kita. Dan kita seperti mendapatkan suntikan nafas kehidupan setiap kali kita bicara, padahal cuma sebatas bertukar kata. Meski kita dibatasi oleh jarak yang tak terhingga.

Cinta apa yang sedang kita tanam dan semai sedang kita menebarnya di ladang kemustahilan? Adakah angin yang menebarkan benih yang selalu menghembus dan menyelimuti kita? Nyawa apakah gerangan yang menghidupinya? Tak ada jawaban yang mampu memuaskan ketidakmengertianku akan rasa yang terus tumbuh, meski sekuat apapun aku ingin menghentikannya. Tak ada kemustahilan yang bisa kuterima akan cinta yang terus hidup sebesar apapun keinginan untuk mematikannya.

Cinta itu hidup, tanpa media ruang. 
Tanpa alasan. 
Tanpa perdebatan.
Tanpa kepedulian.

Dan aku tak pernah bisa mengerti hingga kini, seperti selalu kupertanyakan... di manakah gerangan cinta seharusnya tumbuh dan hidup? Dengan apa dan mengapa dia bisa berakar, tumbuh berkembang dan membesar bahkan selalu saja menggelepar lapar. Tak ada jawab untuk itu, untukku. Selain cakrawala yang menyapaku dan memintaku untuk bersabar, dan menjalani hari-hari yang penuh pertanyaan itu dengan ketidakperluan akan perdebatan, kepedulian dan alasan apapun.

Hanya satu yang kumengerti... Cinta itu memang ada. Pour voi!



About Naiknya Harga BBM In My Humble Opinion...

denger-denger (dan udah finale) bbm mo dinaikkan lagi harganya per oktober 2005. dddooooh, modar deh gw!

sebenarnya, jika pemerintah berniat menaikkan hargaBBM dengan dasar perbandingan harga pasar, menurut hemat saya agak kurang 'adil' dan kurang tepat. apalagi jika benchmark yang dipergunakan adalah harga2 dari beberapa negara yg notabene memiliki tingkat kesejahteraan penduduk yg tinggi, level living costyang tinggi atau PDB yang tinggi.

sangat tidak fair untuk membandingkan hargaBBM pada beberapa negara maju di dunia dengan penetapan harga ideal di Indonesia. karena perlu diingat, angka kemiskinan penduduk indonesia masih cukup tinggi. meski indonesia memiliki angka pendapatan per kapita yang cukup tinggi, tapi realitanya pendapatan penduduk miskin baik diperkotaan maupun di daerah sangat jauh dari kategori cukup apalagi mapan, jika dibandingkan dengan kondisi harga saat ini. kemampuan daya beli masyarakat indonesia saat ini boleh di bilang masihrendah (dari 220 juta penduduk, hanya 10-20% yang masukkategori makmur/kaya/tajir) .

jika pemerintah menetapkan harga BBM yang tinggi dengan dalih mengikuti harga pasar, maka siap-siap saja kita (masyarakat yang 80% tersebut) untuk menanggung dampak dari kenaikan harga BBM tersebut. akan terjadi multiplier efek yang sangat mengerikan, misalnya:

- Tarif Toll naik, pengaruh ke biaya transportasi sembako (naiklah harga sembako)
- Tarif listrik naik
- Tarif angkutan umum/transportasi (darat, laut dan udara) naik

pada akhirnya semua kenaikan harga2 ini akan bermuara pada peningkatan harga-harga kebutuhan barang pokok yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. jadi, apakah menjadikan harga BBM di pasar dunia dengan harga BBM disini cukup tepat? Cukup adilkah?


(Sept 2005)