Listen to the rhythm of the falling rain,
Telling me just what a fool I've been.
I wish that it would go and let me cry in vain,
And let me be alone again.
Now the only girl I've ever loved has gone away.
Looking for a brand new start!
But little does she know that when she left that day.
Along with her she took my heart.
Rain, please tell me, now does that seem fair
For her to steal my heart away when she don't care
I can't love another, when my heart's somewhere far away.
I feel like I can hear that song playing in my ear, again and again. Feels like I can hear a music in my head and lead me to sing that song. It is not simply that song reflecting the rain that is falling right now, but somehow everytime the rain falls, it always remind me off some one. Yess, it is you!
Lagu itu perlahan terngiang-ngiang di telingaku berulang-ulang. Seperti ada music yang mengalun di kepalaku, dan mengajakku menggumamkan lagu itu. Bukan semata-mata karena lagu yang dibawakan the Cascade ini memang sangat pas dengan suasana hujan di pagi hari ini, tapi entah kenapa tiap kali hujan rintik-rintik seperti ini, selalu saja mengingatkan aku pada seseorang. Ya, kamu!
You said that you love the rain falls. Loving its view when drizzles splashing wherever it touches the land. Loving its water ripples like dancing. Loving its view when drizzles touching the window and sliding down to the edge. Some times it slide straight down, and some times it is also twisting like a dancer.
You said that you love it when the window is getting blurred when you're breathing in front of it. Then you move your graceful finger on the dewing glass shaping a lovely wordss, something that I read as... I L U, I love you!!
Kamu bilang, kamu sangat menyukai hujan. Menyukai percikan air yang memecah dimana pun ia jatuh. Menyukai riak-riak air yang seperti menari-menari. Menyukai bulir-bulir air yang jatuh pada kaca jendela, diam sesaat, untuk kemudian meluruk ke bawah. Dan gerakannya yang tak pernah bisa diduga arahnya membuatnya seperti meliuk-liuk. Menyukai kaca yang berembun ketika nafas kita berhembus di dekatnya. Lalu kamu asik menggerak-gerakkan jari-jari lentikmu mereka sebuah bentuk, dan menunjukkannya padaku.. Sesuatu yang kubaca sebagai.. I L U!!
Yeah, this rain always bring me to that day. The day when we watch the rain splashing our window, enjoy the harmony that flowing in the air, enjoy the splashing water dancing on the pond, and running down to wherever it can flow. It sounds like a rhytm in harmony when our two hearts be as one, beneath the peacefull mind. We share our warm and let our skin touching each other. Huging each other.
Ya, aku selalu saja terbawa ke dalam suasana itu. Ketika kita menyaksikan hujan membasahi kaca jendela, menikmati irama percikannya, menikmati titik-titik air yang pecah di setiap genangan air yang terlihat, menikmati air yang serupa warna tanah berlarian mengalir ke manapun tempat yang rendah. Iramanya seakan musik lembut yang mengiringi hati kita yang menyatu, diselimuti kedamaian. Saling berbagi panas tubuh kita untuk mengusir hawa dingin yang menyeruak. Menikmati semuanya dalam diam. Tak ada kata terucap selain bahasa tatap mata, mengiringi senyum yang tak lepas dari bibir kita. Mengiring setiap detik yang kita lalui... dengan detak di jiwa kita yang menggebu-gebu. Setiap detik yang menderu!
And so does this morning rain play that song in my ear again, and it brought me back every single moment that I could never let it go from my memory. This rain brought me back to memorize you.
No matter where you are...
Dan hujan pagi ini membawakan kembali gaung lagu itu di telingaku. Membawa kembali setiap detik yang tak pernah bisa hilang dalam ingatanku. Membawaku kembali, mengingatmu!
Entah dimana pun kamu saat ini...
May 16, 2007
May 8, 2007
Aku Cinta Kamu
Apr 20, 2007
Kebersamaan,, Brotherhood
Dear Blogger...
Barangkali gw terlalu sentimentil or yg sering orang bilang too melow.. But, this is what I am feeling now. Barangkali apa yg gw rasa ini juga seringkali dirasakan oleh orang lain, or tentu aja dirasain juga sama sodara-sodara gw. Tapi, entah karena gw yang seneng ngemong atau karena emang posisi gw sebagai kakak, gw merasakan ada satu perasaan baru yang gw kenali sebagai rasa kasih sayang sesama saudara sekandung.
Belakangan gw begitu worry sama adek-adek gw yang notabene udah pada mandiri, notabene all men pulak, dalam mereka menjalani their own life. Gw makin melihat, bhw hidup itu adalah suatu proses yang ga pernah berhenti. Di satu titik mungkin kita pernah merasakan bahwa kita mulai menapaki ke arah kemapanan, namun di waktu lain pada titik yang lain, membawa kita ke arah perjuangan baru yang sesungguhnya memberi kita kesadaran bahwa kita masih jauh dari titik kemapanan yang kita harapkan itu.
I'm concern about them, my brothers..
Beberapa hari belakangan ini gw worry mikirin salah satu ade gw, yang kebetulan paling bontot dari 8 bersaudara, yang tiba-tiba aja punya keinginan melepaskan diri dari titel 'kekaryawanannya'.. Tiba-tiba aja dia kekeh mo ninggalin kerjaan, posisi dan gajinya (yg buat gw, lumayanlah..) untu memulai satu titik baru dimana dia mo nyoba kemampuannya untuk berwirausaha.
I'm worry about what is it gona be, kalo dia jalanin usaha dia ini n it resulting something none..
Tapi, terus terang gw salut banget sama Yayan karena dia punya keyakinan kuat. Dia punya prinsip bener2 teguh. Sekali memutuskan, gak ada kata ragu apalagi surut kebelakang. Damned, I should be embarashed myself for not having a strong faith like him!.. Cuma saja, sebagai kakaknya, gw selalu mikirin apa yang terjadi dgn dia kalo some day dia mengalami kegagalan? Karena apa yang dia ambil, itu nggak cuma memiliki konsekuensi thd dia pribadi, tapi ini menyangkut his family, my other brothers and sisters yang suka nggak suka, sometime depend on him beside me (hehehe, nyombong dikit!). The most important one is, our mom. Dia org pertama yang sebenarnya paling nggak setuju kalo Yayan resign dari kerjaannya. Jeezee, gara kenekatannya pulak mommy jadi marah ke gw krn dibilang gw ga bisa kasih pandangan ke Yayan... :-(
So, beberapa hari belakangan ini gw seperti nggak kenal kata capek melakukan apa pun yang gw bisa, ngeluarin semua kemampuan berpikir gw, supaya niat n rencananya terlaksana.. Buka usaha Kafe. Spt yang pernah gw bilang di postingan kemaren, buka kafe or kedai.. 'Kedai Kang Komar' or 'Kafe Kang Komar'.. Nyetir gantian pulang pergi JKT-Bandung pulang hari.. Berangkat sore pulang dini hari. Rest satu hari, and next day gitu lagi.. Sekedar untuk survey dan melakukan semua persiapan yang gw anggap perlu supaya kafe ini berdiri. Hunting lokasi, nge-deal dengan pemilik lahan, bikin konsep kerjasama, bikin FS (hmmm, semua usaha seserhana apapun harus ditinjau dari sisi FSnya lho. Supaya bisa ambil kesimpulan suatu usaha itu layak dijalanin apa nggak), cari bahan material yg murah di Bandung, cari calon karyawan, deelesbe.
Semua itu gw lakuin cuma karena... tiba-tiba aja gw merasa duuh, ade gw ni kok masih gw anggap anak kecil aja ya. Masih gw anggap dia itu bontot yang gw ga bisa nggak harus gw bantu. Semua itu gw lakuin karena.. God knows.. gw tu tiba-tiba aja sadar, gw sayang banget sama adek2 gw. Perasaan yang baru gw sadarin, ternyata itulah makna pertalian darah. Bahwa apa yang dia rasain, susah-senang-berat-ringan-repot-nyantai, gw seperti ikut ngerasain. Gw tiba-tiba sadar, dulu kita nggak banyak punya kesempatan untuk ngerasain kebersamaan spt yg gw alami sama adek-adek gw belakangan ini. Karena kita memang nggak ngalamin tumbuh besar dan jalanin masa kanak2 bersama-sama, dalam satu naungan rumah yang sama.
Ternyata emang bener, rasa kasih sayang itu nggak secara otomatis tumbuh di hati kita even terhadap saudara sekandung. Rasa itu tumbuh, seiring dengan kebersamaan yang kita bangun, kebersamaan yang kita ciptakan. Yang membawa kita pada kesadaran yang sama.. bahwa kita ini bersaudara.
We're Komed Bros... Komar Memed Brothers..
Putra-putra Komar Memed, our beloved father!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)

