Feb 18, 2010

Valentine's Day - Hari Kasih Sayang???

Dear Sayangku,

Maaf kalau beberapa hari kemarin, tanggal 14 Februari, yang kata orang-orang adalah Valentine's Day atau Hari Kasih Sayang, aku tidak mengirimkan kartu atau pun sebaris sms berisi ucapan Happy Valentine. Maaf kalau aku sama sekali tidak membahas sedikit pun tentang hari itu dengan sesuatu yang bernuansa Valentine's Day. Bukan karena aku sibuk, atau bukan karena bagiku hari itu tidak menjadi istimewa lagi, bagi kita, setelah kita mengarungi 15 tahun masa pernikahan kita.

Kalau kamu berpikiran bahwa aku telah melupakan kamu dengan tak mengucapkan sepatah kata pun tentang kasih sayang di hari itu... tak membisikkan 'happy Valentine, sayank' di telingamu seperti biasanya.. itu bukan karena semua itu tak berarti lagi buat kita. Tidak!

Tak sedikitpun waktu mempengaruhi apa yang telah kita jalani, dengan caraku mencintaimu. Tak sedikitpun 15 tahun bersamamu mengurangi makna hari-hari, detik demi detik, dengan kamu berada dalam setiak detik yang kujalani. Tak ada yang berubah!

Tiga anak yang telah kau berikan, dan kau perjuangkan untuk membesarkan mereka, menjadikan mereka seperti apa yang saat ini kita nikmati... merasakan kebanggaan setiap kali kita menatap mereka, yang harus kau capai dengan mengorbankan helai demi helai rambutmu yang dulu hitam, menjadi abu-abu... melupakan padat dan sexynya tubuhmu demi menjaga dan merawat tubuh mereka agar semakin kokoh, tegap, gempal seperti anak2 sehat lain pada umumnya, bahkan sering membuat orang tua lain iri melihat betapa lucunya, cantik dan tampannya anak2 kita... itu semua tak mengurangi kecantikan dan kemolekanmu di mataku yang membuat apa yang kurasakan ketika dulu menatapmu saat pandangan pertama, tatap syukur di malam ijab kabul, dan tatapan tak sabar di malam pertama... tak berubah sedikitpun dengan apa yang kurasakan sekarang... ketika menatapmu di saat apapun.

Bagaimana mungkin aku bisa menunda rasa kasih sayang yang kumiliki setiap hari dengan merayakannya sekali saja dalam setahun di hari yang kata orang-orang adalah hari untuk merayakan Kasih Sayang, kasih sayang terhadap orang yang memang seharusnya kita sayangi... setiap hari, setiap detik.

Bagaimana mungkin aku mengistimewakan hari itu, tanggal 14 Februari itu, sebagai hari dimana kita bisa merasakan kasih sayang, rasa cinta, di antara kita lebih meluap di banding hari-hari lain, sedangkan setiap hari yang kulalui bersamamu selalu saja menghadirkan rasa kasih yang baru, selalu saja meluapkan cinta yang menggebu..

Bagaimana mungkin aku menganggap hari itu, tanggal 14 Februari itu, khusus hari itu... adalah hari yang istimewa buat kita untuk kita rayakan bersama, sedang setiap hari yang kita jalani, setiap detik yang kita lalui... adalah moment yang selalu istimewa buat kita.

Maka ketika aku tak membisikkan kata-kata cinta itu di hari yang kata orang special itu, lantas tidak berarti kau tak istimewa lagi buatku. Tidak... Karena aku akan mengatakan apa yang kurasakan ketika kau tak ada disisiku sedangkan rindu itu datang... aku akan mengatakan rasa sayangku kepadamu ketika rasa itu menghinggapi... kapanpun kumau, setiap saat yang kita miliki.

Cinta,
Adalah cahaya yang menyentuh mata kita detik demi detik..
Adalah aurora yang melingkupi waktu yang kita jalani, tahun demi tahun
Adalah nafas yang kita hembuskan hari demi hari

Tak perlu satu hari kita istimewakan untuk menyatakan rasa yang kita miliki, karena setiap saat akan kukatakan padamu, betapa aku sayang kamu. Kapan pun rasa itu menguasai inderaku...

Oct 23, 2009

Setelah Hujan


Rinai hujan baru saja mereda, meninggalkan sisa-sisa suara riuh bulir air hujan yang menimpa atap office-mess tempatku berdiam diri saat ini. Layar laptop di hadapanku masih menampilkan halaman-halaman Facebook, salah satu situs yang belakangan ini menjadi langgananku browsing di dunia maya.

Namun sesungguhnya mataku luput memperhatikan apa yang terpampang di halaman tersebut. Pandanganku jauh melayang, menembus dimensi layar di laptopku dan menjelajah ruang demi ruang dalam dimensi pikiranku yang satu demi satu terpampang seperti slide presentasi.

Jarak seperti menjadi tidak berarti ketika pandanganku menjelajahi ratusan kilometer dari Muara Wahau, lika-liku ruas jalan menuju Sangata, naik turun lembah dan ngarai menuju Bontang, kehijauan di sepanjang jalan menuju Samarinda hingga menapaki aspal Bandara Sepinggan di Balikpapan, lalu terbang menuju Cengkareng dan berlabuh di sebuah rumah kecil mungil bersahaja berdinding keramik biru langit. Dengan pekarangan yang gersang hampir tak tersentuh tetanaman. Lalu pandanganku menapaki lantai putih di ruang tamu dan berakhir di sebuah kamar di mana kau berdiri, menantiku. Dengan wajah polos sederhana tanpa pulasan make up menampilkan kulit wajah yang putih berseri, dan senyum khas tiap kali kita bertemu.

Ya, dalam sekejap saja aku pindah ke dalam dimensi dimana kau ada di dalamnya. Dan aku merasakan keharuan yang meruah didesak oleh rasa rindu yang menggelegak memberontak melimpah. Saat ini aku ingin berada disana, di sampingmu. Dan suara tawamu menceritakan apa yang kamu alami seharian ini semakin melengkapi perjalananku, menarikku pergi dari sosok yang saat ini tengah duduk menghadapi laptop yang teronggok menanti jari jemariku bermain seperti biasanya. Sesaat aku kembali dan saat lain aku pergi ribuan mil disana membawa kisah-kisah yang semuanya tentang balutan kekangenan akan sosokmu, sosok yang saat ini begitu ingin kupeluk. Sosok yang saat ini merajai seluruh kesadaranku. Dan menggerakkan jari-jemariku seketika menari-nari lincah menekan tuts-tuts di keyboard menampilkan cerita tentang kita.

Beberapa saat berlalu, rinai semakin mereda dan akhirnya menghilang meninggalkan keheningan seketika. Kecuali sesekali diusik oleh kehadiran serangga yang serenta semarak meningkahi alam yang seketika dilingkupi kesejukan yang selama ini langka terasa. Berbagai macam suara serangga saling bersahutan, namun tak urung tetap menghadirkan keheningan yang harmoni. Damai seketika melingkupi.

Dalam diam aku menikmati kemerduan yang hadir dari ponsel di telingaku. Kau masih sibuk bercerita. Dan aku menikmati setiap detik yang berharga dengan kau ada dalam pikiranku yang terbuka dan segenap mataku yang menutup rapat. Betapa hebatnya rindu ini menguasaiku. Dan malam semakin menyuburkan segenap perasaanku yang menggelembung ini. Seperti pucuk-pucuk bunga yang seketika membuncah disiram hujan yang membawa seluruh berkah. Rinduku menyubur seperti daun-daun yang kembali hijau setelah beberapa hari bahkan minggu tertutup gersang dan debu.

Aku semakin merinduimu.

Dan tak ada lagi yang mampu menahan segenap keinginanku seketika ponsel kututup dan kita mengakhiri pembicaraan kita dengan sebait doa dan harapan agar kita secepatnya bertemu, kecuali menuliskan semua yang terlukis dalam keabstrakkan rasa yang kunikmati saat ini, dengan beberapa bait tentang rindu.

Padamu, perempuanku.

Dan kututup tepat tengah malam ini dengan kesejukan di dada, yang membawaku melangkah kembali ke mess, tempatku istirahat dari kungkungan kesibukan sehari-hariku di perusahaan tambang tempatku merintis masa depan, di desa Bean Heas. Tempat dimana setahun terakhir ini aku terdampar, dan menikmati hari-hari aku menggelepar dalam kerinduan. Rindu padamu, perempuanku.

I love U,

Bean Heas, October 23, 2009

Jan 30, 2009

No Network Coverage

Today on my journey:

No Network Coverage


Muara Wahau, 30 Januari 2009

No Network Coverage...
No Network Coverage...

Hampir sepanjang hari display hp menunjukkan status dengan tulisan tersebut diatas. Menyebalkan!

Pegal rasanya menanti sinyal HP naik dari nol bar. Jangankan full... bisa dapat 2-3 bar saja sudah bagus. Kalau sudah begini, rasanya seperti berada di dunia antah berantah. Jauh dari rumah. Jauh dari keluarga. Jauh dari teman. Dan sama sekali tidak bisa menjangkau mereka, meski pun Cuma sebatas telepon. Bah!!!

Rasanya seperti mau membanting HP tiap kali kemarahan sudah mencapai puncak karena menanti sinyal yang ditunggu-tunggu seringkali nggak datang ketika diharapkan. Ya, mau marah! Marah pada perusahaan yang tidak mau menyediakan fasilitas memadai untuk mereka –saya dan teman-teman– yang ditempatkan jauh dari sanak keluarga. Terutama fasilitas komunikasi. 

Di jaman yang katanya komunikasi sudah segala-galanya, masih saja kita kesulitan karena minimnya fasilitas. Perasaan marah yang berasal dari rasa kecewa, kesal, frustasi yang menumpuk dan bercampur aduk. Bagaimana nggak kecewa kalo saat kita ingin menghubungi orang rumah, mendengar suara orang-orang yang kita cintai yang kita tinggal jauh disana, ternyata sulit. 

Bagaimana nggak kesal karena seringkali melihat HP nggak bedanya seperti melihat batu, karena nggak bisa dipake. Dan frustasi, menanti-nanti sinyal HP nggak naik-naik dari level 0. No sms, no call, no gprs.. nothing!

Paling marah tiap kali lihat iklan di TV yang ditayangin oleh para provider sialan itu.
Mana XL yang katanya nyambung terusssss???
Mana Indosat yang katanya Sinyal Kuattt???
Mana Telkomsel yang katanya Puassss??? 

Puasss????

Hah!!! Kampretttt!!! 

Punya 3 sim card semuanya sama saja. Tiap kali hujan turun dikit, HP mendadak jadi bloon! Percuma pake HP 2 on. GSM-GSM 2 On... Nyatanya tetep aja.. O’on. Dasar provider sialan. Mana BTS yang katanya menjangkau seluruh kecamatan dan desa2??? Huh, iklan sialan. HP sialan. Network Sialan!

Tapi, sayang juga mau melempar HP itu seperti batu. Biarlah, saya akan tunggu sampai sinyal normal kembali. Sampai tulisan di display yang menyebalkan –No Network Coverage– itu hilang dan berganti sinyal yang mudah-mudahan bisa datang sampai mentok! Tok.. Tok!!!

Huh.. No Network Coverage.. Tulalit.. tulalitttttt!!!