Dec 16, 2010

The face of death...

Every one of us is gonna go back and meet the God Almighty


This morning I visited one of my neighbour who had just passed away last nite. He wasn't too old to dye actually. He was about 50-55 as I can see his face is still quite young. He died because of suffering a complicated diseases on cardio and lunge.

A month ago we were just had a conversation and sharing our laugh. I never noticed that he has such a serious diseases. I was very shock when I met him again a week before he dies. He was so so painful, almost unable to recognice every person that he actually known. I was so sad looking at him dying without any hope.

I saw so many people in deeply sad and crying. Some of them pray and the other recite the Qoran. I took a while to take a look at his face and touched it. It was so cold. He was so peaceful. Another while, I took the Qoran and start to recite sura Yaasiin. All sudden I was trembling all over my body.

God, I didnt know what was I felt, but all sudden I thought about myself. What have I done so far. All the good things and bad things that I have done. About how far I was from God as I abandoned Him quite often, lately. I didn't do my pray so well.

I cried without the tears! 

The sound of my voice reciting sura Yaasiin drowning me in a sea of regretness even more. I remembered my last conversation with some one. She remind me about how far I was going out of track. Remind me about what am I supposed to be .. being a good man, being a leader to my beloved wife and kids.

I knew she was right. Deeply in my heart I have to admit that I slightly changed from a good person became a monster. I've done so many things bad. I made the sins with my open eyes and mind. I keep doing that and worst sometimes with pride.

God forgive me...

I left that mourned house with question running in my head.

When is my time gonna come to an end?
Will I be ready when it is come?

So much time been wasted, less time to catch up..

God give me a guidance...


(my old journal)

Dec 15, 2010

my thoughts

pikiran saya rasanya penuh beberapa hari belakangan ini. selalu saja dipenuhi hal2 yang seharusnya tidak perlu ada. macam2 aja. teman2 di kantor yg ada-ada aja (maksudnya ada aja hal2 yg bikin jeles sekelompok temen, dan satunya lagi selalu ada aja niat untuk show off -ni, gue, gitu loh!, dan lain-lain).

ada juga org2 tertentu di komunitas tertentu (dimana saya aktif di dalamnya) yg suka banget over acting, seolah2 dia mampu ngerjain semua dan saya tidak bisa apa2 (hehehe, silahkan... take the big portion, be my guess..)

hal-hal serius lain yg masuk satu per satu ke dalam pikiran saya seperti air yang menerobos memasuki ruang dan perlahan2 mengisi penuh ruangan tersebut, tanpa ada satu ruang pun yang tak terjangkau. seperti banjir, saya harus menimba air tersebut sedikit demi sedikit dan membuangnya keluar. kadang air yang terbuang keluar jauh lebih sedikit dibanding air yang masuk, hingga ruang ini begitu penuh. untung lah, sejauh ini dinding2nya tak terlihat retak sama sekali. pikiran saya masih sanggup menampung masalah-masalah tersebut satu per satu.

entah karena masalah yang datang begitu banyak atau entah karena usia, belakangan beberapa kali saya suka merasakan kepala pening. hm, sebelum ini saya paling anti dengan yang namanya obat sakit kepala. kalo diingat-ingat, barangkali baru bbrp tahun belakangan ini saya mulai kenal yang namanya obat sakit kepala (ga mau iklan nyebutin merek obat, ah.. xixixi).

barangkali karena banyaknya masalah itu juga, sampai-sampai postingan ini pun nggak selesai dan baru saya rampungkan sekarang (Desember 2010). hahahahaha, kelamaan. yeahhh, sekarang kondisi saya sudah jauh lebih baik. masalah, sebanyak apapun yang datang, memang harus saya selesaikan. satu per satu. masalah kalau hanya dipikirkan memang tidak akan selesai-selesai. yang penting adalah tindakan kita. go action! hadapi dan selesaikan. ga perlu ngoyo untuk menyelesaikan semua masalah dalam waktu yang bersamaan, karena kalau itu tak tercapai, kita sendiri yang akan frustasi. santai aja! inventaris permasalahan yang ada. buat skala prioritas penyelesaian. skala prioritas bisa berdasarkan urgensi permasalahan, atau tingkat kesulitan.

saya sendiri, lebih suka menyelesaikan masalah yang termudah dulu, kecuali kalau memang ada yg lebih urgent. meskipun sulit, harus didahulukan. first thing first!

yeah, beberapa urusan sudah selesai. alhamdulillah.

dan sekarang, masalah yang harus saya hadapi adalah... saya tidak ada sesuatu yang harus saya selesaikan! hmmmmmmmmmmmmm.....


Sep 1, 2010

Tetangga


Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pelajaran yg sangat berharga tentang arti bertetangga. Di belakang rumah kebetulan ada kontrakan 6 pintu yg kesemuanya telah berisi. Salah satu penghuni rumah kontrakan tersebut, sebut saja namanya Mama Desi, tengah hamil tua. Suaminya kerja serabutan, sehingga secara ekonomi keluarga tersebut sangat susah. Karena kesulitan ekonomi tersebut, Mama Desi yang seharusnya rajin memeriksakan kehamilannya yang tua itu, tidak memeriksa kandungannya sama sekali. Hingga dia tidak tau, atau mungkin memang tidak mampu, kapan harus mempersiapkan proses persalinannya.

Beberapa malam yang lalu, sekitar jam 2 dini hari tepatnya, tiba-tiba saja Mama Desi (karena anak pertamanya Desi, biasanya orang-orang memanggilnya seperti itu, mamanya Desi.. atau biasa dipendekkan menjadi Mama Desi) merasa waktunya melahirkan telah tiba. Namun, entah kenapa, suaminya tidak berupaya sedikitpun untuk mengantar istrinya ke Bidan atau rumah sakit bersalin, atau setidaknya memanggil bidan ke rumah. Entah bagaimana ceritanya, tak berapa lama kemudian sang suami menggedor-gedor tetangga sebelah rumahnya. Si tetangga tersebut, sebut saja Mama Wahyu, untungnya tengah mempersiapkan sahur. Kontan saja Mama Wahyu keluar dan menemui suaminya Mama Desi.

Tanpa penjelasan panjang lebar, Mama Wahyu bergegas menolong Mama Desi. Tanpa diketahui oleh siapapun, ternyata sementara sang suami membangunkan Mama Wahyu, Mama Desi yang saat itu tengah berada di kamar mandi, sudah mengalami proses persalinan. Setibanya Mama Wahyu di kamar mandi, dia terkejut setengah mati melihat kondisi Mama Desi. Wanita itu berdiri terbungkuk-bungkuk. Dan, dalam posisi berdiri tersebut, sang bayi ternyata telah lahir dan berada di lantai kamar mandi. Dara berceceran dimana-mana, tentu saja... Mama Wahyu, dengan berani dan teguh, berupaya sekuatnya menolong Ibu dan bayi yang baru saja mengalami proses antara hidup dan mati. Bayi mungil yang teronggok di lantai itu pun diangkat dan digendong Mama Wahyu. Selanjutnya ia membantu Mama Desi untuk proses persalinan selanjutnya, hingga plasenta atau ari-ari pun keluar dari rahimnya. Dan selama proses itu berlangsung, si Ibu yang tengah berjuang melahirkan itu melakukannya sambil berdiri.

Tetangga lainnya yang mendadak terbangun mendengar kehebohan dan suasana berisik di rumah Mama Desi, segera memanggil bidan terdekat. Sedang sang suami hanya mondar mandir kebingungan tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tak lama kemudian, bidan pun datang dibonceng sepeda motor dan langsung membantu proses persalinan tersebut. Memotong tali pusar, mengurus plasenta dan sang bayi merah. Alhamdulillah, perjuangan hidup dan mati itu pun berlangsung dengan baik. Si bayi lahir selamat, si Ibu yang melahirkan pun selamat. Tidak ada pendarahan atau kejadian lainnya.

Semalaman hingga pagi datang, seluruh tetangga Mama Desi, dan tetangga sekitar rumah, membantunya hingga beban orang itu teratasi. Termasuk biaya persalinan yang akhirnya ditanggung renteng karena sang suami tak memiliki apa pun untuk menyelesaikan biaya kelahiran si bayi.

Berkaca pada kejadian tersebut, benarlah sabda Nabi, bahwa sesungguhnya orang terdekat bagi kita, bukanlah saudara sekandung baik kakak atau pun adik, melainkan tetangga kita. Oleh karenanya kita harus memperlakukan tetangga dengan sebaik-baik kita memperlakukan orang lain. Tetangga adalah orang pertama yang kita mintakan bantuan dan pertolongan jika sewaktu-waktu terjadi pada kita dan keluarga, bukan adik, bukan orang tua yang tinggalnya mungkin berjauhan. Tetangga lah orang pertama yang membantu dan melakukan hal-hal yang kadang tidak terpikirkan oleh kita bahwa mereka akan melakukannya... dengan ikhlas dan sukarela, tanpa memikirkan pamrih apapun. Bahkan, kadang mereka pun rela mengeluarkan biaya untuk membantu tetangganya yang nota bene adalah... orang lain!

Saya terharu melihat keikhlasan dan sifat spontanitas mereka yang sebenarnya orang-orang yang juga (mungkin) secara ekonomi tidak memiliki kelebihan. Tapi mereka memiliki hati yang kaya yang karenanya mereka bisa membantu siapapun yang memang membutuhkan pertolongan.

Tiba-tiba saja saya jadi teringat tetangga besar kita yang, rasanya, bukannya membantu, malah seringkali melakukan hal-hal yang menurut hemat saya sangat memprovokasi. Tindakan yang, menurut saya, bukan saja menganggap kita rendah, tetapi bahkan sangat menghina harga diri kita... sebagai bangsa. Ya, tetangga yang saya maksud adalah si negara tetangga yang baru-baru ini, dan memang sudah seringkali, berbuat kurang ajar... sesuatu yang menurut saya, sudah seharusnya ditindak. Tapi, sayang seribu sayang, kita -sebagai tetangganya- terlalu berbaik hati (atau mungkin terlalu lembek) sehingga selalu saja mengambil sikap mengalah dan mengalah, merendah dan merendah.. Dengan lagi-lagi mengemukakan alasan, karena mereka adalah tetangga kita, sehingga kita harus menjaga hubungan 'pertetanggaan' ini agar selalu terjalin dengan baik dan harmonis.

Bah, tetangga yang kayak gini harusnya disikat.. kalau perlu -seperti kata Pemimpin kita terdahulu, .... DIGANYANG!!!