Feb 9, 2011

Murottal Qur'an




Warottilil Qur'ana Tartiila,,, Bacalah Al Qur'an dengan Tartil (perlahan dan khusyuk)

Bbrp waktu belakangan ini saya ingin,, ingin sekali, menambah hafalan bacaan Qur'an. Awalnya karena ada bbrp ayat yg dulu saya hafal belakangan mulai lupa. Dan, celakanya saya juga lupa nama surat dmana ayat2 hafalan tsb berada. Untung, berkat seorang teman, Isnaldi, saya bs kembali menemukan hafalan2 tsb.

Alhamdulillah, setelah bbrp kali membacanya berulang2, saya bs kembali hafal ayat2 tersebut, dan stlh lancar saya mulai memberanikan membaca di dalam sholat jamaah di rumah, dmn saya menjadi imam sholat.

Kenapa saya share soal ini disini? 

Nope, sama skali bukan untuk narsis atau berbuat ria.. Mudah2an saya dijauhkan dari perbuatan ria. Naudzu Billah..

Yang ingin saya share adalah betapa, sesungguhnya, kalau kita baca dgn tartil dan diresapi, ayat-ayat tersebut, insya Allah hal ini akan mendatangkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman di hati kita. Meskipun kita tidak paham artinya.. Karena, itulah yang saya alami.

Entah kenapa, setiap saya membaca ayat-ayat seperti di Surat-surat Az Zumar, Al Hasyr, Al Baqoroh, Al Furqon, dll, saya seperti merasakan sesuatu merasuki jiwa saya. Sesuatu yang entah apa saya tidak bisa menjabarkan, tapi rasanya hati ini menjadi kecil. Hati ini menjadi sejuk. Dan kesyahduan yang ditimbulkan dari lantunan ayat-ayat tsb pasti,,, selalu membawa keharuan bagi saya. Keharuan yang sering kali membuat saya menangis.. 

Ya, benar2 saya menangis!!!

Seperti tadi subuh,, 

Ayat pertama saya baca bbrp baris terakhir di Surat Al Hasyr...

Huwa Allahu alladzi la ilaaha illa huwa 'alimul ghoibi was syahadah
Huwa arRahmaanu arRahiim
Huwa Allahu alladzi la ilaaha illa huwa almalikul quddus as salaam al mu'minul muhaiminul aziizul jabbaarul mutakabbir.. dst (uhh, kalo diresapi lagi maknanya, pasti akan lebih membuat kita tunduk)
 
Untung saya mampu menyelesaikan bacaan saya, padahal di akhir2 ayat jiwa saya mulai tergetar. 

Akhirnya di rokaat ke dua ketika saya membaca Az Zumar,, 

Wasiiqol alladzinat taqaw robbahum illal jannati zumaro. Hattaa idzaja uuha wafutihats abwabuha wakola lahum khozanatuha... dst

Persis di penghujung bacaan, pertahanan saya jebol. Saya tak kuasa menahan tangis. Lidah saya seperti kelu. Hati saya sontak terisak. Hingga bacaan-bacaan takbir saya ucapkan dgn berbisik.

Seperti ada keindahan yang begitu dalam dan menyentuh yang membuat saya jadi terharu tiap kali membaca ayat2 Quran dgn tartil. Entah kenapa..

Barangkali jika anda ingin mencoba mencari ketenangan, kesejukan, ketentraman dan kedamaian,, maka bacalah Qur'an dengan tartil. Khusuk. Dan resapi. Mungkin anda akan mengalami hal yang sama dengan saya.

Cobalah,, karena disitu kita akan merasakan sesuatu yang nyaman, sesudahnya..

Insya Allah

Wallahu A'lam Bisshowab

Solitude 3


(sebuah catatan kesadaran:)


kuharap kau berada di tebaran bintang malam ini:
di rentang jarak perjalanan cahaya,
berselimut nebula..
ketika kudesiskan sebait rindu yang larut di udara
dan menyatu dengan dinginnya kabut
kemarau yang berpancaroba

malam ini kurekatkan mata hatiku
sepanjang waktu yang melata
pada keheningan yang bertahta
pada sorak-sorai yang tenggelam
pada sekat sekat ruang dimensi yang terjerat
kebimbangan antara keinginan dan penolakan;

merindumu atau melupamu pudar bersama waktu
diantara kenyataan dan khayalan,
ada terlihat lalu sirna dan lumat

seperti langit di gugusan bintang yang bergegas
menyongsong lembayung yang cerah,
dan pagi yang memerah:

mungkin harus kubenahi kesendirianku
tanpa melulu lagi lukisan tentangmu

kita tak perlu lagi saling merindu...


(9 Juli 2005)
*parung panjang, tengah malam

Monologue Untukmu – 2




barangkali kau tak pernah memperhatikan,
sisi lain dari kematian adalah keindahan
seperti rembulan yang bulat terang di tengah kelam
rekah oleh cabang-cabang pohon asam
yang mengering diambang kematian;
adakah lelapmu pernah memanggilku?

seperti ketika kesepian merekam rindu-rindu
tentangmu yang tak pernah henti berbinar
tiap kali mataku terjerat gemintang berpendar
malam berlalu tak pernah seperti dulu
ketika khayalku sibuk melukis bayangmu
ketika kenangan tentang kita berbuih
memenuhi ruang di benakku yang merepih

aku merindumu dan mati sunyi!
dan kerinduan ini adalah cerita kematian indah
tentang malam yang penuh warna
bukan cuma hitam!
bukan cuma kelam!
ketika getar di tubuhku selalu saja bersorak
tiap kali kudesiskan namamu..
masih ada cinta, selalu ada rindu!

mungkin jika kau perhatikan:
bulan yang sama lewat siluet kematian pepohonan
yang meranggas,
yang meratap lemasl,
maka akan kau temukan sisi keindahan suatu kematian
seperti aku menemukan keramaian kisahmu
di tengah kekosongan jiwaku

seperti aku yang tak pernah jemu menatapi bulan itu!


(9 Juli 2005)