May 17, 2017

Fitnah dunia yang semakin hebat

https://m.detik.com/news/berita/3502268/polisi-kak-emma-akui-chat-audio-dengan-firza-di-baladacintarizieq

EKSLUSIF: DETIK ATAU POLISI YG BOHONG

Baru saja saya akan memejamkan mata, saat saya menerima tilpon dari seorang wanita  Ternyata beliau  Umi Emma ( Fatimah Husein Asegaf  MA), istri mantan ketua FPI , Habib Muhsin Ahmad al _Attas LC , yg sekarang duduk sebagai Dewan Syuro FPI.

Singkat cerita, Umi Emma ini namanya disebut -sebut pernah Chat dengan Firsa , dimana disebutkan seolah Firsa pernah curhat berkait dengan hubungannya dengan Habib Rizieq. 

Berkait dengan hal tersebut, maka Umi Umma  pun dipangil polisi sebagai saksi dan sudah empat kali ( termasuk hari ini), namun sungguh TERKEJUT luar bisa Umi Emma manakala di detik hari ini termuat berita, bahwa dia mengakui pernah chat sama Firza.

Bagaimana Ummi tidak terkejut, karena hari ini saat dipanggil polisi dia yg sudah datang ditemani kawannya, ternyata sampai kantor polisi malah tidak ditanyain apa-apa, bahkan Penyedik yg bernama Ferdi justru minta maaf, karena hari ini tidak ada pemeriksaan . "Bagaimana saya mengakui, saya ditanya saja tidak, malah polisi minta maaf dan menyuruh saya pulang, " tutur Umi Emma.

Bahkan dalam pemeriksaan sebelumnya sebanyak tiga kali, Ummi Emma  juga tidak pernah mengakui melakukan chat dengan Firza berkait dengan  kasus yg ramai saat ini dimana seolah Firza curhat soal Habib Rizieq pada Umi Emma yg dalam chat itu dipanggil  Kak Emma.

Diceritakan Umi Emma, dan juga telah disampaikan ke polisi , bahwa dia memang mengenal Firza, tapi sebatas masalah tak'lim. Karena Umi Emma ini di  organisasi Mujahidah Pejuang Islam atau MPI (sayap FPI)  dia membawahi bagian dakwah, jadi dia dihubungi Firza untuk ikut Tak'lim .  Bersama rombongan yg lain, Umi Emma mengajak Firza ikut Tak'lim tiga kali yaitu di Petamburan 1 kali dan di Mega Mendung 2 kali. Selebihnya dia tidak menggenal Firza secara dekat atau pribadi.

Umi Emma ini sejak remaja malah kawan akrab Umi Fadlun, istri Habib Rizieq, karena suami mereka bersama -sama kuliah di Arab Saudi.

Jadi bagaimana logikanya masak Firza yg disebut selingkuhannya Habib Rizieq, curhat pada Umi Emma soal Habib Rizieq pada Umi Emma yg sahabtnya Umi Fadlun, istri Habib Rizieq.

Saat menilpon saya  tadi Umi Emma berkali -kali membantah keras , bahwa dia pernah mengakui dia melakukan chat dengan Firza berkait dengan Habib Rizieq.
Oh ya ditambahkan tadi sama Umi Emma, saat dia tadi disuruh pulang oleh polisi karena tidak ada pemeriksaan, oleh Polisi dia disuruh melalui pintu belakang, karena kata polisi di depan banyak wartawan. Namun anehnya mobil yg ditumpangi suruh melewati gerumbulan wartawan.

Nah teman, sekarang Anda nilai sendiri , Detik yg membuat berita bohong atau Pak Politi yg memberikan keterangan tidak sesui apa yg disampikan Umi Emma?

May 16, 2017

De-Islamisasi Indonesia

*De-Islamisasi Indonesia*

Oleh: Felix Siauw

Yang namanya kebetulan itu terjadi satu dua kali masih wajar, tapi bila terjadi berkali-kali, maka itu bisa disebut modus. Dalam matematika modus biasanya punya pola

Tidak hanya pola, tapi modus biasanya juga berisi sebuah pesan dari perancangnya, baik ia sadari ataukah tidak, dari situ kita bisa melihat yang harusnya tak terlihat

Kejadian akhir-akhir ini menunjukkan kepada kita pola tersebut, sebab terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Yang bisa kita lihat, ada upaya sistematis de-Islamisasi

Negeri ini mayoritasnya Muslim, pemerintahnya pun Muslim, tapi aksi de-Islamisasi ini sesungguhnya sudah berjalan sangat lama, dari negeri ini merdeka bahkan

Pelaku de-Islamisasi ini berusaha mereduksi peran Muslim dalam kemerdekaan Indonesia, juga mengaburkan fakta bahwa Islamlah yang menjadi inspirasi kemerdekaan

Lebih daripada itu, pelaku de-Islamisasi ini mencoba menutup fakta bahwa dulu penjajah itu datang membawa 3G yang mana itulah sumber kesengsaraan ummat di nusantara

Adalah gold (emas), gospel (injil), glory (jaya), yang mewakili kepentingan kapitalis, misionaris, dan imperialis. Mereka tak hanya inginkan harta, tapi juga tahta dan agama

Maka bangkitlah perlawanan kaum Muslim oleh para ulama, yang menyeru kaum Muslim menegakkan agama Islam, yang memang musuh alami dari keserahakan

Dari ujung barat hingga timur bergejolak, ulama memberi fatwa bahwa membela tanah dan harta bagian dari seruan agama, sebab memang begitulah penjagaan dalam Islam

Negeri ini berhasil dimerdekakan dari penjajah, agar tak lagi pecah dan terjajah, maka disatukanlah dengan semangat yang memerdekannya, yaitu karena Allah

Sejarah menghantarkan kita bagaimana modus ini bermula dari hilangnya 7 kata *"dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya",* lalu berlanjut

Islam yang menginspirasi perjuangan gagal diinstall dalam negeri tercinta, ulama-ulama yang memperjuangkannya lalu ditekan, bahkan dikriminalisasi

Belum usai sampai disitu, tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad Natsir dan Buya Hamka pun kembali melanjutkan cita-cita ulama pendahulu seperti Ki Bagus Hadikusumo

Sejarah kembali mencatat, upaya de-Islamisasi itu kembali berhasil, syariat Islam kembali gagal menjadi dasar negara, yang memperjuangkannya lalu dipenjara

Tahun demi tahun berganti, namun upaya *menjauhkan Islam* dari kaum Muslim tak berhenti, sekulerisasi mulai merata di seantero negeri, *Muslim tapi tak paham Islam*.

*Islam direduksi hanya sekedar ibadah ritual*, sementara Allah seolah hanya ada di masjid dan bulan ramadhan, negara seolah steril dari pengawasan dan hukum Allah.

Sementara penjajahan gaya baru mulai mencengkram negeri ini, kekayaan Indonesia dikuasai segelintir, tapi para kapitalis tidak puas, mereka inginkan lebih lagi, seluruh negeri

Bila selama ini para kapitalis puas hanya membackup mereka yang berkuasa, kini mereka ingin lebih, mereka ingin jadi penguasa itu sendiri, lebih leluasa

*3G itu seolah berulang kembali, Gold-Gospel-Glory*, mereka mulai menggunakan pengaruhnya lewat politik pencitraan, tak mau lagi salah kedua kalinya.

Bila dulu mereka gagal lewat penjajahan fisik, maka mereka sudah belajar, *sekarang mereka coba masuk lewat perang pemikiran, penjajahan model baru.*

Hampir saja mereka berhasil, hanya saja *Allah berkehendak lain, terjadilah kasus Al-Maidah 51*, lidah si penista jadi blunder bagi rencana besar penjajah model baru ini.

Ummat Muslim seolah bangkit dari tidur panjangnya, momen ini seolah teguran Allah sekaligus penyatu segenap ummat. Dengan gagahnya ummat membela Al-Quran.

*Gerakan aqidah* yang awalnya diremehkan ini menjadi gelombang raksasa yang siap melumat apapun, namun *tetap santun dalam aksinya, berakhlak mulia.*

Ummat tak segan-segan mengorbankan hartanya, silaukhuwah dengan mudah terjalin antar gerakan Islam, kelompok Islam bersatu turun ke jalan membela agamanya

Airmata berderai saat menyaksikan kalimat takbir, tahmid, tahlil, berpadu dengan kibar bendera tauhid, senyum-senyum ikhlas yang takkan terlupakan sampai kapanpun

Disinilah *para penjajah menjadi gerah, rencana mereka bisa hancur* bila kaum Muslim bersatu dan sadar apa yang terjadi, semangat Islam naik secara drastis

*Mulailah polarisasi dilakukan* untuk meredam kaum Muslim, khas cara syaitan menakut-nakuti manusia. *Muncullah tuduhan-tuduhan pada mereka yang membela agamanya*

Mulai dari makar, menggoyang negara, kudeta, sampai anti-kebhinekaan, anti-pancasila, anti-NKRI, termasuk radikal, ekstrim dan benih terorisme

*Tapi ummat tak lekang keberaniannya*, aksi 411 diikuti 212 begitu herois, mereka tahu persis karena Allah saja mereka bergerak, maka mereka tak takut apapun

*Ancaman ditingkatkan,* ulama-ulama yang terkait aksi #BelaIslam dikriminalisasi, dicari-cari alasan untuk menjerat, mulai dari prasangka hingga murni fitnah

Dari cara legal sampai cara nakal, *kepercayaan terhadap ulama terus digerus,* para penjajah menggunakan seluruh kartu yang bisa mereka mainkan, at all cost

Sementara sang penista berusaha terus-menerus diselamatkan, mulai dari menuduh penyebar video sebagai penyebabnya, sampai aksi #BelaIslam adalah bayaran

Mereka menggelari sang penista dan komplotannya dengan simbol kebhinekaan, paling pancasila, paling NKRI, sunan, santri kehormatan, pokoknya dewa

*Ummat tak berhenti, karena Allah yang menggerakkan* mereka, bahkan saat jaksa mencoba memainkan tuntuntan, ummat tetap setia mengawal hukum agar ditegakkan

Alhamdulilah, sang penista mendapatkan hukumannya. *De-Islamisasi yang mereka rancang sedari dulu berantakan, ummat malah makin dekat dengan Islamnya*

Tapi para penjajah ini tak mau berhenti, the show must go on. Maka dimainkanlah modus lama, de-Islamisasi degan cara yang lebih keras, lebih kasar, tak terhormat

Bila Natsir dan kawan-kawan dulu dianggap pembangkang dan pemberontak, hari ini gelar ini juga diberikan pada mereka yang konsisten untuk memperjuangkan syariat Islam

Dan Hizbut Tahrir mendapatkan kehormatan pertama kali untuk masuk dalam ujian ini. Wacana pembubaran dilempar, lalu lihat bagaimana reaksi ummat Muslim semuanya

*Yang ingin saya sampaikan sedari tadi, masihkah kita tak sadar bahwa ini rangkaian de-Islamisasi yang sama sejak masa penjajahan? Hanya saja beda penjajahnya.*

Arus Islam yang sedemikian kuat dan dahsyat ini harus dibuat lemah. Bagaimana caranya? Bubarkan mereka, adu kelompok yang tersisa, buat saling tidak percaya

Kali ini fitnah semua sudah mengarah kesana, dan ujian kini bagi kita kelompok Islam adalah bagaimana tetap menyatu dan membahu menghadapi de-Islamisasi ini

Apalah Hizbut Tahrir dibandingkan kelompok lain di negeri ini, hanya saja kita perlu ketahui, ini bagian pelemahan kekuatan ummat, satu persatu akan mendapat giliran

Masyumi dulu pernah merasakan hal yang sama, tokoh-tokoh Islam yang sekarang kita kagumi pun pernah mendapatkan tuduhan yang sama, itu modus bukan kebetulan

Di sisi lain, gerakan-gerakan yang mendukung penista agama walau anarkis terkesan dibiarkan, tak seperti aksi #BelaIslam yang bahkan mujahid Camis harus berjalan kaki

Hari ini Hizbut Tahrir diwacanakan dibubarkan, wacana FPI untuk dibubarkan pun sudah diramaikan, yang berada di depan dalam amar ma'ruf nahi munkar, dihabisi dulu

*Kini ujian itu di depan mata kita, mampukah kita solid untuk senantiasa bersama dalam perjuangan ini, hingga Allah berkenan menyatukan hati-hati kita*

Yang jelas, cara-cara keras, kasar dan tak terhormat ini takkan dilakukan bila tidak ada kepanikan. Bahwasanya para penjajah itu tahu Islam di ambang kebangkitan

Para penjajah itu mungkin sudah merancang segalanya, tapi Allah pun sudah merancang yang lainnya, dan adalah Allah yang paling indah rancangannya

Upaya de-Islamisasi akan terus mereka lanjutkan, dan kita pun akan tetap melanjutkan dakwah apapun urusannya. Sebab dakwah takkan pernah terhenti.

Apr 21, 2017

Beruntung


Setiap kali aku melihat sosok wanita tua renta, aku selalu merasa bersyukur. Bersyukur mengingat aku dan istri masih memiliki Ibu dan Ibu mertuaku. Bersyukur karena kami masih bisa bersama mereka, menemani mereka, dimasa tuanya

Alhamdulillah, baik Ibu dan Ibu mertuaku masih bisa menemani kami hingga usia mereka saat ini, 80 dan 3 tahun.

Meski terkadang timbul perasaan yang tak bisa kujelaskan sebagai apa, tiap kali menatap mereka, aku selalu merasa rindu. Rindu terkadang datang bahkan ketika aku tengah bersama Ibu. Perasaan yang seperti melompat jauh ke masa-masa bertahun di depan, ketika... Ahh. 

Ibu, dan mertua, mereka kian renta. Dan usia renta kerap kali membuat mereka sakit-sakitan. Ketika sakit, kerap kali mereka bisa sampai seminggu atau 2 minggu terbaring di tempat tidur. Setiap kali melihat mereka seperti itu, selalu saja ada perasaan tidak enak menghinggapi kami, aku dan istriku.

Sebagai anak, aku dan istriku merasa bersyukur karena Allah swt masih memberi kami kesempatan menemani hari tua mereka, ibu-ibu kami, hingga usia renta mereka saat ini. Ya, tiap memperhatikan mereka, aku selalu menatap mereka dengan perasaan yang bercampur. Ada sedih, khawatir, bahagia; dan lain-lain. Setiap hari, adalah kebahagiaan dan perasaan tak menentu. Terkadang aku tak ingin hari berganti, berlalu, bertambah. Hari ke hari, ke minggu, bulan dan tahun.

 Namun waktu tak pernah berhenti berlalu. Dan kekhawatiran memikirkan hari esok malah membuatku lupa mensyukuri hari ini. Hari-hari yang seharusnya kujalani dengan perasaan beruntung. Ya, beruntung aku dan istriku masih memiliki kesempatan untuk mengabdi. Mencurahkan kasih sayang merawat mereka. Sambil berharap Allah swt rindho, semata. Dan memberi kami ganjaran terindah...

Syurga...


April 2017