Jan 27, 2018

POLITIK Dari Sisi ISLAM

🅑🅐🅡🅑🅐🅡
Kabar Kabar

*POLITIK Dari Sisi ISLAM*
Oleh : Ani Hasibuan.

Buka-buka Medsos, saya baca obrolan di salah satu WA, topiknya tentang orang-orang yang (merasa) pintar yang cenderung Anti *POLITIK* dan MELARANG tiap anggota WA nya bicara tentang *POLITIK*.

Jadi isi obrolan WA itu cuma ucapan selamat ulang tahun dan posting kuliner, konon isinya grup orang-orang pinter, yang TEREDUKASI dengan baik dari universitas ternama.

Saya ketawa bacanya.
Saya juga punya grup begitu.

Tiap ada yang ngomong politik, pasti akan muncul moron2 yang men-colek2 admin untuk memberi peringatan pada yang posting, dan itu ber-ulang2, sampai-sampai ada ancaman kalau masih posting juga akan dikeluarkan dari grup...😄😄😄.

Pada grup-grup begini, saya pasti tak pernah komen. Soalnya saya tidak merayakan Ultah dan tidak suka Kuliner juga, jadi males saya baca posting-posting di tempat seperti itu kan ?

Pagi tadi, my bontot boy tilawah setelah jadi imam sholat subuh. Ia membaca surat Al Qasas. Isinya tentang perjuangan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS melawan _Tirani Kaisar Imperium Mesir_, Fir’aun, sang MUSUH ALLAH.

Di awal, Allah mengatakan bahwa FIR’AUN adalah PENGUASA YANG JAHAT, karena ia MENGADU DOMBA RAKYATNYA untuk memperkokoh kekuasaannya.

Selanjutnya diceritakan bagaimana Nabi Musa AS, pria cadel yang sejak bayi diasuh oleh Fir’aun, melawan “bapak angkat”nya sendiri.
Dan ini kisah yang sangat saya sukai.

Seorang pria cadel yang tak jarang ketakutan, berhasil menghabisi kekuasaan seorang Kaisar Superpower, yang memiliki bala tentara yang super terlatih dan persenjataan perang yang lengkap.

Dan bukan main senjata yang digunakan Musa AS untuk melawan segala kedigdayaan Fir’aun, apa itu ?

*Yaitu : kekuatan MULUT !!*

_Door to door_ menawarkan konsep ketauhidan, memiliki informan yang bekerja di internal Fir’aun (salah seorang panglima perang Fir’aun membelot dan memihak pada Nabi Musa), menggunakan jasa juru bicara (Nabi Harun menjadi juru bicara Nabi Musa, sebab bicaranya tidak jelas, waktu bayi Nabi Musa pernah makan bara api yang ditawarkan Fir’aun, sehingga lidahnya terbakar dan bicaranya menjadi cadel).

Apa sebetulnya yang dilakukan Nabi Musa di masa pemerintahan Fir’aun ?

Nabi Musa BERPOLITIK !!

Melawan seorang Kaisar, dengan lobby mulai dari tingkat rakyat jelata sampai panglima perang, menghadirkan penyusup, itu semua *POLITIK*, kan ?

Dan sepemahaman saya, hampir semua kisah Nabi-Nabi adalah kisah perlawanan melawan _Tirani_ (kecuali Nabi Adam AS, mohon koreksi bila keliru).

Dan apa kegiatan para _TIRAN_ ?

*Mereka MENJAUHKAN MANUSIA DARI PEMURNIAN PENGHAMBAAN PADA ALLAH.*

Tiran di jaman _Nabi Ibrahim AS_ memaksa rakyatnya menyembah patung-patung.

Tiran di masa _Nabi Luth AS_ memaksa rakyatnya menerima kelakuan LGBT bahkan menghukum rakyat yang menentang LGBT.

Tiran di masa _Nabi Shaleh AS_ memaksa rakyatnya bertransaksi dengan RIBA dan mereka gemar mengurangi timbangan,
dan seterusnya dan seterusnya.

Dan tiran yang paling “menggemaskan” adalah Fir’aun, yang secara eksplisit memaksa rakyatnya untuk MENYEMBAHNYA, menjadikan Fir’aun mendapat gelar “musuh-KU” dari Allah SWT.

Kesimpulannya,
*NABI-NABI BERPOLITIK*.

Lalu kenapa kita jadi anti ?

Kita yakin *POLITIK* menjauhkan kita dari kekhusyukan sholat, massaaaa...??

Rasulullah SAW itu _Politisi Handal_ sekaligus Panglima Perang yang memiliki ketangkasan yang handal serta strategi perang yang jitu.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan bukti Rasulullah SAW adalah *POLITISI ULUNG*.

Perang 12 kali Beliau adalah bukti bahwa Beliau adalah seorang Panglima Perang yang handal.

Jadi kenapa masih anti pada *POLITIK* ?

*Indonesia ini dimerdekakan oleh perjuangan Ulama, mereka berPOLITIK !!*

Jadi kenapa masih anti pada *POLITIK* ?

Marilah kita jangan mau terbawa propaganda _ANTEK-ANTEK_ musuh yang mengatakan bahwa POLITIK ADALAH KOTOR.

Dia mengatakan itu untuk mengelabui kita, supaya kita lengah.

_Mengira kita akan aman-aman saja dan cukup hanya dengan sholat, mengaji, dan umroh !!_

*No*

Agama Islam bukan agama ritual belaka, keIslaman seseorang tidak dilihat dari keistiqamahannya dalam melakukan ritual.

Islam itu agama sosial. Kesalihan seseorang diukur dari seberapa banyak waktunya dihabiskan untuk, ber *AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR.*

Ingat kisah seorang saudagar yang sedang sakratul maut, saat malaikat Rakib dan Atid memperlihatkan catatan amalnya, timbangannya jatuh ke kiri, dosanya lebih banyak.

Namun akhirnya, malaikat Rakib dan Atid menemukan satu catatan kebaikan, yang akhirnya membuat semua dosanya terhapus dan timbangan kebaikannya menjadi sangat berat.
Apa amal itu ?

Tangisan seorang ibu yang berterima kasih padanya karena dia berikan makanan (dia sendiri belum makan, lalu dia tawarkan pada ibu dan anak-anaknya yang lapar).

Bagaimana kita bisa berharap lepas dari _RIBA_ kalau kita tidak ber *POLITIK* ?

Bagaimana kita bisa berharap Syariah Islam dijalankan bagi kita pemeluk agama Islam kalau kita _Anti_ pada *POLITIK* dan menganggap *POLITIK* adalah sesuatu yang berbau busuk dan menyengat ?

Sekali lagi, jangan pernah terbawa propaganda _ANTEK-ANTEK_ musuh yang mencoba mengubah _Mindset (pola pikir)_ kita.

Ingat, Islam mengajarkan kita untuk hablum minannaas dan hablum minallaah, ritual HARUS diaplikasikan dalsm kegiatan sosial (amar ma’ruf nahi munkar).

Sekian tahun umat Islam di negeri ini dijauhkan dari *POLITIK*, mulai dari cara halus melalui ceramah-ceramah bapak-bapak kyai, sampai cara kasar MEMPERTONTONKAN politisi Muslim yang (terduga) korupsi seolah-olah tidak ada yang Non Muslim yang korupsi, dan mereka SELALU MENGKAIT-KAITKAN dengan ajaran Islam.

Tapi kalau politisi Non Muslim yang korupsi, mereka buru-buru menutup berita, dan kalau ada yang coba-coba mengkaitkan dengan Agama, mereka buru-buru berteriak “GA ADA HUBUNGANNYA DENGAN AGAMA”.

Ayo saudaraku di jalan Allah, jangan anti pada *POLITIK*. Justru, 87% umat Islam ini harus ber *POLITIK*.

Kita harus mampu menentukan kemana rakyat ini harus dibawa.

Kita TAK BOLEH MENYERAH PADA TIRAN.

Sebagaimana para Nabi berjuang melawan tiran, kita pun kini beramai-ramai melawan tiran yang hendak _MENJAUHKAN_ kita dari Allah.

*POLITIK* bukan tabu, *POLITIK* itu suatu komponen kehidupan, kalau dia tak ada, hidup menjadi tak jelas mau bagaimana ?

Jangan ragu untuk bicara soal *POLITIK*, jangan minder juga, sebagaimana kita tak cerdas, demikian juga para _politisi_ yang saat ini ada, jadi kita punya wewenang informal untuk bicara, kan ?

Semoga kita ke depan lebih aware dan lebih melek politik.

Cukuplah tiran-tiran berkuasa, mari kita ciptakan suasana kondusif sehingga muncul *PEMIMPIN YANG SHIDDIQ, AMANAH, TABLIQ, FATANAH.*

Allahu 'alam...

Jan 22, 2018

Ketika Boneka Jadi Pemimpin

Bisa jadi renungan:

KETIKA BONEKA JADI PEMIMPIN...!

MH. Ainun  Nadjib

“Kenapa rakyat mau memilih boneka, patung atau berhala untuk menjadi pemimpinnya?”

“Karena partai politik memperkenalkan calonnya dengan mendustakan kenyataannya. Calon pemimpin ditampilkan dengan pencitraan, pembohongan, dimake-up sedemikian rupa, dibesar-besarkan, dibaik-baikkan, diindah-indahkan, dihebat-hebatkan”

“Itu bukan politik namanya, Pak, itu kriminal”

“Memang bukan politik, melainkan perdagangan. Bukan demokrasi, melainkan perjudian. Memang bukan kepemimpinan, tapi talbis. Kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis”

*“Talbis itu apa to Pak?”*

“Talbis adalah Iblis menemui Adam di sorga dengan kostum dan make up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat. Maka Adam tertipu. Rakyat adalah korban talbis di berbagai lapisan. Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka. Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan”

“Apakah pemimpin yang demikian bisa berkuasa?”

“Yang benar-benar berkuasa adalah botoh-botoh yang membiayainya. Setiap langkahnya dikendalikan oleh para botoh. Setiap keputusannya sudah dipaket oleh penguasa modal. Ia tidak bisa mandiri, karena dikepung oleh kelompok-kelompok yang juga saling berebut demi melaksanakan kepentingan masing-masing”.

“Apa ia tidak merasa malu menjadi boneka?”

“Itu satu rangkaian: tidak merasa bersalah, tidak malu, tidak tahu diri, tak mengerti bahwa ia sedang menyakiti dan menyusahkan rakyatnya, tidak memahami posisinya di hati masyarakat, tidak punya cermin untuk melihat wajahnya”

“Sampai separah itu, Pak?”

“Tidak punya konsep tentang martabat manusia, harga diri Bangsa dan marwah Negara. Hanya mengerti perdagangan linier dan sepenggal, tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya. Tidak memahami tanah dan akar kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan time-line matangnya bunga dan bebuahannya. Pemimpin yang demikian membawa bangsanya berlaku sebagai pengemis yang melamar ke Rentenir…”.

“Pemimpin yang seperti itu akhirnya pasti jatuh dan hancur”, kata Kakak.

“Belum tentu”, kata Bapak.

“Jangan lupa bahwa kalau para botoh mampu mengangkat berhala ke kursi singgasana, berarti mereka juga menguasai seluruh perangkat dan modalnya untuk bikin apa saja semau mereka di Negara itu.

Juga selalu sangat banyak orang dan kelompok yang mencari keuntungan darinya, bahkan menggantungkan hidupnya. Sehingga mereka membela boneka itu mati-matian.

Mereka selalu mengumumkan betapa baik dan hebatnya pemimpin yang mereka mendapatkan keuntungan darinya, sampai-sampai akhirnya mereka yakin sendiri bahwa ia benar-benar baik dan hebat. Uang, kekuasaan dan media, sanggup mengumumkan sorga sebagai neraka, dan meyakinkan neraka adalah sorga”.

Yogya, 2017
Emha Ainun Nadjib

Jan 20, 2018

Kisah Seorang Dokter

Copas dari WA Group Teman

Kisah SEORANG DOKTER

Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga  hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.

Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.

Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.

“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.

Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah.

Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat.

Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.

Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”

Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah.

Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.

“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"

Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan

Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.

Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.

Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah.

Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati.

Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi.

Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.

Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.

Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.

Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.
Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.

Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.

Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin:  sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.

“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”

Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.

Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.
------
Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan membawa banyak manfaat Amien

محي الدين زينوالدين