Feb 6, 2018

Surat Untuk Bang Densi yang Suka Seruput Kopi

Elfan Bawalsyah - Padang

SURAT UNTUK BANG DENSI YANG SUKA SERUPUT KOPI

Bang densi terganteng. Apakah abang tahu, bahwa tahun 2015 menjelang Petral dibubarkan. Pembubaran itu awalnya untuk menghapus mafia migas. Rupanya ada kongkalikong antara om brewok dengan pak de untuk mengalihkan  kewenangan supply impor migas dg rekanan om brewok, Sonangol EP yg dipimpin Sam Pa. Kini Sam Pa harus dikandangkan di penjara di negara asalnya karena terlibat korupsi. Publik pun ribut. Apakah abang lupa di zaman siapa ini terjadi ? di zaman Pak de bukan ?

Apakah abang tahu itu ?

Ternyata orang - orang sbg "otak" petral selama ini hanya berganti "baju" dengan divisi Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina. Ditahun pertamanya, ISC sudah membuat kesepakatan dagang yang merugikan negara. Adalah Daniel S Purba VP ISC Pertamina yg jadi dalang kasus pengadaan LPG (Butane dan Propane) untuk loading april 2015. Bisa dipahami bahwa pembubaran petral itu hanyalah modus "ganti majikan" para mafia. Dan di zaman siapa itu terjadi ? Di zaman Pak de bukan?

Apakah abang ganteng tahu itu?

Coba tanya senior kita Pak Binsar Effendi Hutabarat (ketua KKB '66), Beliau lantang sampaikan bahwa memilih pemenang tender LPG oelh ISC pertamina tidak berdasarkan Term Of References (TOR). Indikasi korupsi ini ditutup-tutupi dari publik.

Bang densi yang fans nya banyak...

Sekarang cobalah abang belanja ke pasar. Segala kebutuhan pokok serba naik. Tak banyak yang mau memperjuangkan hal ini, karena sudah pada di undang makan di istana. Bahkan tidak juga untuk bung Iwan Fals...kami rindu senandung bongkar...bongkar...bongkar...

Kalau di masa SBY kenaikan BBM dipenuhi demo pengerahan masa yang penuh drama. Terutama tangisan mbak Puan di parlemen dan sumpah-serapah Rieke "oneng" memperjuangkan hak - hak kami sebagai rakyat jelata. Tapi kemana mereka sekarang ?

Apakah abang lupa itu?

Bisakah abang sampaikan pada mereka kalau kami rindu mereka turun ke jalan. Kami tahu abang bisa sampaikan itu ke mereka. Kan tinggal diajak seruput kopi di istana. Karena akhir - akhir ini, pintu istana tidak punya telinga. Didatangi masa 4 juta pun, Pak de kita yang katanya rindu di demo itu malah milih periksa gorong-gorong di bandara.

Apakah abang lupa itu ?

Abang densi yang super. Isi laut kita memang selalu dirampok...Disaat publik digembirakan dengan perintah buk Susi untuk tenggelamkan kapal asing. Kami pun sambut gembira. Namun sayang, ini hanya jadi festivalisasi. Substansi masalah tata kelola laut dan perikanan tak terletak pada ditenggelamkan-tidaknya kapal asing ini saja.

Tahukah abang ? Pemerintahan Pak De terjebak dengan larang/tidak melarang penggunaan cantrang. Setelah diamuk nelayan, barulah kebijakan ini dibatalkan. Tapi, sebenarnya kebijakan cantrang ini,  tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan nelayan. Sebab, problem mendasarnya berupa ketimpangan penguasaan aset, distribusi pendapatan dan tata niaga perikanan. Inilah juga yang menyebabkan angka kemiskinan nelayan kuli pasti turun,... turun-temurun!

Apakah abang peduli itu ?

Belum lagi kebijakan Pak de dibidang kedaulatan pangan. Impor - impor bertebaran. Bukankah negeri kita kaya. Hanya saja yang bermasalah adalah distribusi & penanganan logistik saja. Lalu kenapa saat petani hendak panen raya. Pemerintah malah mengagendakan impor beras ?. Bahkan awalnya kebijakan ini di tangani pihak swasta. Keburu ketahuan, barulah hak impor dialihkan ke bulog. banyak kejanggalan dalam proses impor ini. Siapakah yang bertangguh jawab atas ini. Di era siapakah ini terjadi ?

Abang densi yang dihormati...

Tahukah abang, Sudah 46 tahun bapak Petrus Asuy bersama masyarakat adat Muara Tae mempertahankan wilayah adat mereka dari usaha perampasan oleh perusahaan konglomerasi. Muara Tae, sebuah kampung di Kalimantan Timur, yang didiami masyarakat adat Dayak Benuaq Ohokng. Dari 10,8 ribu hektare wilayah adat Muara Tae yang terpetakan, hanya 6% yang terbebas dari konsesi perusahaan, sisanya 94% tumpang tindih dengan izin perusahaan konglomerat.

Kajian Forest Watch Indonesia (FWI) pada 2017 di delapan provinsi, termasuk Kalimantan Timur, menemukan ada 1,52 juta hektare wilayah adat tumpang tindih dengan konsesi-konsesi perusahaan. Konflik ini sebenarnya bisa diselesaikan jika dokumen Hak Guna Usaha (HGU) dibuka kepada publik.

HGU ini memuat informasi lengkap seperti nama pemegang hak, lokasi, luas HGU, jenis komoditi, dan peta konsesi perusahaan. Jadi penyelesaian konflik tumpang tindih perusahaan dengan wilayah adat bisa mengacu pada data tersebut. Gak akan ada lagi tuh, warga yang bingung dimana batas-batas lahannya. Namun sayang, Pak De lebih memilih diam. Belum lagi jika dihitung dengan transparansi HGU pulau-pulau reklamasi di Jakarta yang sangat kuat bau korupsinya...

Abang ganteng. Kenapa tak abang ingatkan Pak De pakai kartu kuning ?

Kami sudah tahu, selama puluhan tahun kita merdeka masih banyak wilayah di Papua sana gelap gulita dan tidak ada akses jalan menuju kesana. Jika ada kucuran dana ratusan triliun rupiah dan mengerahkan TNI AD untuk membangun ribuan kilometer jalan disana adalah sebuah keharusan. Karena sudah lama anak Papua seharusnya mendapatkan hak-hak mereka. Bukankah itu adalah bahagian dari janji politik sejak Papua menyerahkan noken mereka di 2014.

Namun sayang, pencitraan - pencitraan dipermukaan tak seperti kenyataan. Bukankah sederet nama pemimpin besar dan kawakan sepeti: Yap Salosa, Theys Eluai, Agus Alua, Nataniel Badi, Wospakrik, Willem Mandowen, Pdt Awom, Abraham Ataruri, Jhon Rumbiak, Cosmas Pigai, Thom Beanal, Lukas Enembe dan lain2 adalah korbannya. Sementara rakyatnya  sudah lebih dari ratusan ribu orang mati sia-sia. Demi apa? demi mendapatkan apa yang sudah menjadi hak mereka.

Lalu tiba2 jalan dan jembatan yang dibanggakan tersentak oleh anak Asmat yang mati kelaparan. Kemana pembangunan papua itu hadir ? Lalu melalui juru bicara pemerintah berdalih dananya kurang untuk biayai tenaga ahli untuk atasi masalah gizi. Lalu, kemana dana triliyunan tadi? Bukankah freeport sudah di akuisisi? Jhon Djonga (rohaniawan Asmat) pun bersaksi. Jangan orang minoritas dan tanah papua dijadikan jualan politik lagi ! Kalau ingin membangun, lihatlah di pegunungan tengah sana. Jangan lihat ke Mimika !

Kapan ya abang memberi Pak De kartu kuning untuk itu ?

Kami tidak terlalu nyaman menikmati fasilitas di kota. Hati kami gelisah melihat ini semua. Tak seperti abang yang dapat semua fasilitas istana, sehingga tampak besar dan lembek tubuhnya.

Kami tahu Pak Jokowi dalam setahun mengunjungi ratusan tempat di seluruh Indonesia. Beliau tak lupa unggah sendal jepit di Yach yang mewah. Atau cuci muka di lautan untuk lalap berkah. Bisa juga parade baju oblong di acara resmi. Kami juga saksikan betapa gagahnya Chooperland Pak De. Yang katanya ingin dikendarai di trans papua ditengah elegi bumi cenderawasih. Apakah itu semua solusi? Kami tahu 2019 itu sudah dekat. Kalau kerja beliau benar dan menepati setiap janji-janji, kenapa tergurat kekhawatiran beliau tak terpilih lagi.

Pernahkah abang memberinya kartu kuning untuk itu sekedar mengingatkan apa yang harus dia kerjakan untuk bangsa Indonesia ?

Kalau Jokowi mau, abang, ngapain dia sekedar ganti "baju" Petral ? Kan dia bisa ganti semua jajaran pertamina yang terlibat mafia migas ?

Ngapain juga Jokowi merasa capek bangun Papua. Toh beliau biasa enak masuk gorong-gorong dimana banyak media yang meliput disana untuk pencitraan dirinya ?

Sulit ya memberinya kartu kuning ? Karena abang hanya memandangnya sebelah mata dengan penghambaan luar biasa tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi diluar sana.

Senior itu bukan hanya harus pintar dalam pelajaran, abang, tapi juga harus luaskan wawasan.. Jadi mulailah membaca, jangan hanya sibuk puja-puji saja. Apalagi pake share status seaword yang jelas2 fitnahnya..

Abang densi yang suka seruput kopi dan kasih kartu pink. Jadilah  senior yang mencerdaskan. Hentikanlah pembodohan dengan kebenaran alternatif yang abang suguhkan. Kami tak bermaksud menyalahkan Pak De. Ini semua karena kami ingat ajaran abang, kalau yang salah adalah presiden dari era Sukarno hingga SBY. Jika ada janji2 yang belum ditepati oleh Pak Jokowi. Itu semua karena beliau belum 2 periode. Mungkin semua masalah itu akan selesai kalau beliau jadi Sekjen PBB.

Mari ajak fans abang untuk memulai hidup mandiri sesuai anjuran menteri pak jokowi...mulailah bertanam semua kebutuhan pokok di rumah sendiri, bertelur sendiri, beternak sendiri. Kalau perlu menghasilkan BBM sendiri. Karena inilah solusinya untuk semua kenaikan harga yang terjadi....kerja..kerja..kerja...

Oh ya, sekali2 abang cari tahulah asal muasal kopi. Dahulu dipopulerkan oleh ulama dan sufi. Bukankah fans abang agak berat "gimana" gitu sama sesuatu yang berbau arab. Bisa-bisa mereka histeris kalau abang terinfeksi virus onta.

Setuju, Abang ganteng ? Angkat sempritnya. Tiuuup...terakhir, tolong dikurangi micin sebagai penyedap kopi ya. Tidak baik untuk kesehatan jiwa...Sekali-kali ajaklah jesica untuk ngopi bareng. Siapa tahu abang bisa merasakan sensasi kopi buatannya.

Tertanda
😁
Elfans Bawalsyah
(Adek mu yang juga suka main semprit di lapangan bola)

Jan 31, 2018

Permainan Smoke and Mirrors

Permainan Smoke and Mirrors

Oleh: Hersubeno Arief

Wartawan senior John McBeth membuat sebuah tuduhan serius kepada Presiden Jokowi. Dalam sebuah artikel di media online Asia Times, McBeth menyebut Jokowi tengah memainkan strategi _“Smoke and Mirrors” dalam pemerintahannya.

Wartawan kelahiran Selandia Baru (1944) itu malah menyebut Jokowi sudah menjadi seorang empu (master) dalam permainan “asap dan cermin.”

_Smoke and mirrors_ adalah sebuah idiom yang diadopsi dari para pemain sulap yang dalam aksi panggungnya menggunakan semburan asap dan cermin untuk menyembunyikan sesuatu dan menciptakan efek ilusi.

Dalam kamus Webster difinisinya adalah _“something intended to disguise or draw attention away from an often embarrassing or unpleasant issue —usually hyphenated when used attributively.”_ Sesuatu yang dimaksudkan untuk menyamarkan atau menarik perhatian dari masalah yang sering memalukan atau tidak mengenakkan.

Sementara dalam kamus Cambridge difinisinya adalah _“Something that is described as smoke and mirrors is intended to make you believe that something is being done or is true, when it is no.”_ Sesuatu yang dimaksudkan untuk membuat Anda percaya bahwa ada sesuatu yang sedang dilakukan atau benar telah dilakukan. Padahal tidak.

Dalam bahasa lebih sederhana _smoke and mirrors_ adalah melebih-lebihkan fakta.

Priyayi Solo seperti Presiden Jokowi menyebutnya sebagai *_umuk._* Omong besar dengan maksud agar lawan bicaranya menilainya sebagai orang hebat dan kuat.

Dalam konteks politik hal itu dimaksudkan agar para lawan politiknya tidak usah melawan, karena yang dilawan sangat kuat.

Isi tulisan McBeth sendiri sebenarnya biasa saja dan tidak ada yang cukup baru. Dia menulis tentang empat hal. Soal penyelamatan sumber daya alam, yakni negosiasi dengan PT Freeport dan pembangunan Blok Masela, pembangunan infrastruktur, serta swasembada pangan daging dan beras.

Soal Freeport McBeth menyebut pemerintahan Jokowi melebih-lebihkan keberhasilan dalam divestasi saham sebesar 51%. Namun bagaimana cara pemerintah membayarnya dan bagaimana penguasaan manajemennya tidak jelas. Justru yang terjadi pemerintah kembali mengizinkan Freeport mengekspor konsentrat tembaga. Sebelumnya pemerintah mensyaratkan akan memperpanjang izin Freeport bila bersedia membangun smelter di Papua.

Soal infrastruktur McBeth menyoroti pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang akan dibiayai oleh Cina sebesar USD 5.8 miliar, dan pembangkit listrik di Batang, Jawa Tengah senilai USD 4 miliar. Kedua proyek tersebut terkendala pembangunanannya berkaitan dengan pembebasan lahan. Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat selesai pada tahun 2018, atau setahun sebelum pilpres.

Soal swasembada pangan seperti janjinya saat kampanye, Jokowi menyatakan akan menghentikan berbagai impor komoditi pangan termasuk daging dan beras.

Pada tahun 2015, tulis McBeth, pemerintah dengan bangga mengumumkan bahwa proporsi impor daging sapi terhadap total konsumsi turun dari 31% menjadi 24%, tanpa ada yang mencatat bahwa orang Indonesia hanya makan 2,7 kilogram per tahun. Tingkat per kapita konsumsi daging terendah di Asia Tenggara.

Setahun kemudian, angka tersebut telah meningkat kembali menjadi 32% dan tahun lalu meningkat lagi menjadi 41% dengan harga daging sapi sebesar US $ 10/kg.

Begitu pula dengan impor beras. Bulan lalu pemerintah mengumumkan akan mengimpor beras sebanyak 500.000 ton. Rencana impor beras ini menjadi sebuah ironi karena pada bulan Januari 2017 Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim Indonesia berhasil melakukan swasembada pangan atas empat komoditi, beras, jagung, cabai, dan bawang.

Kalau benar pemerintahan Jokowi berhasil melakukan swasembada pangan, hal itu merupakan capaian yang luar biasa. Swasembada pangan berhasil dicapai saat Indonesia dipimpin Soeharto pada tahun 1980an. Setelah itu para presiden penggantinya, tidak ada yang berhasil melakukannya.

*Tidak terlalu mengejutkan*

Mengapa tulisan McBeth menjadi heboh dan viral? Tampaknya karena idiom yang digunakan, dan reputasi pribadinya sebagai wartawan yang sangat menguasai peta politik Indonesia.

*Pertama,* seperti telah disebut penggunaan idiom _smoke and mirrors_ dan _hide hard truths._ Sebuah kosa kata yang tidak main-main karena mengandung tuduhan bahwa Presiden Jokowi mencoba menyembunyikan sebuah kebenaran.

Diakhir tulisannya Mcbeth meramalkan, cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap dan masyarakat akan menyadarinya. Dia menggunakan kata _“Sooner or later, the smoke and the mirrors will inevitably lift to reveal hard realities._

*Kedua,* penilaian McBeth bahwa Jokowi telah menjadi seorang empu permainan “asap dan cermin,” dan media yang secara tidak langsung memfasilitasinya dengan cara tidak pernah mempertanyakan, data-data “keberhasilan” yang disampaikan pemerintah.

Presiden Jokowi dan istana juga disebut menjadi *_“spin doctor,”_* sebuah kosa kata yang secara negatif sering dipahami sebagai upaya memutarbalikkan fakta.

*Ketiga,* ini yang tampaknya paling penting dan serius, adalah reputasi McBeth. Lahir di Selandia Baru, John McBeth menjadi wartawan selama 52 tahun, dan 44 tahun dari karir jurnalistiknya dihabiskan di Asia.

Mengawali karirnya sebagai sub-editor di Bangkok Post, dia kemudian menjadi reporter lepas London Daily Telegraph dan United Press Internasional.

Dia bergabung dengan majalah Far Eastern Economic Review pada tahun 1979 dan selama 25 tahun menjabat sebagai kepala biro majalah di Bangkok, Seoul, Manila dan Jakarta.

Ketika Review ditutup pada tahun 2004, dia menjadi kolumnis kontrak untuk Straits Times, kebanyakan menulis tentang Indonesia. Dia menikah dengan Yuli Ismartono seorang mantan wartawan senior Tempo dan pernah menjadi pejabat bidang kehumasan di Freeport.

McBeth juga menulis sebuah buku berjudul *_The Loner : President Yudhoyono ’s Decade of Trial and Indecision._* Sebuah buku yang menulis dengan sangat lengkap masa kepemimpinan SBY selama dua periode sebagai presiden RI ke-6 dan presiden pertama yang terpilih secara demokratis.

Dengan reputasi semacam itu tulisan McBeth mengisyaratkan ada sesuatu yang tengah terjadi. Dia mempunyai banyak sumber berita di kalangan “orang dalam,” maupun komunitas internasional.

Tidak diragukan McBeth banyak tahu sesuatu yang tidak banyak diketahui kalangan umum, termasuk wartawan dan media dalam negeri.[]

30/1/18
Eramuslim.com

Jan 27, 2018

POLITIK Dari Sisi ISLAM

🅑🅐🅡🅑🅐🅡
Kabar Kabar

*POLITIK Dari Sisi ISLAM*
Oleh : Ani Hasibuan.

Buka-buka Medsos, saya baca obrolan di salah satu WA, topiknya tentang orang-orang yang (merasa) pintar yang cenderung Anti *POLITIK* dan MELARANG tiap anggota WA nya bicara tentang *POLITIK*.

Jadi isi obrolan WA itu cuma ucapan selamat ulang tahun dan posting kuliner, konon isinya grup orang-orang pinter, yang TEREDUKASI dengan baik dari universitas ternama.

Saya ketawa bacanya.
Saya juga punya grup begitu.

Tiap ada yang ngomong politik, pasti akan muncul moron2 yang men-colek2 admin untuk memberi peringatan pada yang posting, dan itu ber-ulang2, sampai-sampai ada ancaman kalau masih posting juga akan dikeluarkan dari grup...😄😄😄.

Pada grup-grup begini, saya pasti tak pernah komen. Soalnya saya tidak merayakan Ultah dan tidak suka Kuliner juga, jadi males saya baca posting-posting di tempat seperti itu kan ?

Pagi tadi, my bontot boy tilawah setelah jadi imam sholat subuh. Ia membaca surat Al Qasas. Isinya tentang perjuangan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS melawan _Tirani Kaisar Imperium Mesir_, Fir’aun, sang MUSUH ALLAH.

Di awal, Allah mengatakan bahwa FIR’AUN adalah PENGUASA YANG JAHAT, karena ia MENGADU DOMBA RAKYATNYA untuk memperkokoh kekuasaannya.

Selanjutnya diceritakan bagaimana Nabi Musa AS, pria cadel yang sejak bayi diasuh oleh Fir’aun, melawan “bapak angkat”nya sendiri.
Dan ini kisah yang sangat saya sukai.

Seorang pria cadel yang tak jarang ketakutan, berhasil menghabisi kekuasaan seorang Kaisar Superpower, yang memiliki bala tentara yang super terlatih dan persenjataan perang yang lengkap.

Dan bukan main senjata yang digunakan Musa AS untuk melawan segala kedigdayaan Fir’aun, apa itu ?

*Yaitu : kekuatan MULUT !!*

_Door to door_ menawarkan konsep ketauhidan, memiliki informan yang bekerja di internal Fir’aun (salah seorang panglima perang Fir’aun membelot dan memihak pada Nabi Musa), menggunakan jasa juru bicara (Nabi Harun menjadi juru bicara Nabi Musa, sebab bicaranya tidak jelas, waktu bayi Nabi Musa pernah makan bara api yang ditawarkan Fir’aun, sehingga lidahnya terbakar dan bicaranya menjadi cadel).

Apa sebetulnya yang dilakukan Nabi Musa di masa pemerintahan Fir’aun ?

Nabi Musa BERPOLITIK !!

Melawan seorang Kaisar, dengan lobby mulai dari tingkat rakyat jelata sampai panglima perang, menghadirkan penyusup, itu semua *POLITIK*, kan ?

Dan sepemahaman saya, hampir semua kisah Nabi-Nabi adalah kisah perlawanan melawan _Tirani_ (kecuali Nabi Adam AS, mohon koreksi bila keliru).

Dan apa kegiatan para _TIRAN_ ?

*Mereka MENJAUHKAN MANUSIA DARI PEMURNIAN PENGHAMBAAN PADA ALLAH.*

Tiran di jaman _Nabi Ibrahim AS_ memaksa rakyatnya menyembah patung-patung.

Tiran di masa _Nabi Luth AS_ memaksa rakyatnya menerima kelakuan LGBT bahkan menghukum rakyat yang menentang LGBT.

Tiran di masa _Nabi Shaleh AS_ memaksa rakyatnya bertransaksi dengan RIBA dan mereka gemar mengurangi timbangan,
dan seterusnya dan seterusnya.

Dan tiran yang paling “menggemaskan” adalah Fir’aun, yang secara eksplisit memaksa rakyatnya untuk MENYEMBAHNYA, menjadikan Fir’aun mendapat gelar “musuh-KU” dari Allah SWT.

Kesimpulannya,
*NABI-NABI BERPOLITIK*.

Lalu kenapa kita jadi anti ?

Kita yakin *POLITIK* menjauhkan kita dari kekhusyukan sholat, massaaaa...??

Rasulullah SAW itu _Politisi Handal_ sekaligus Panglima Perang yang memiliki ketangkasan yang handal serta strategi perang yang jitu.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan bukti Rasulullah SAW adalah *POLITISI ULUNG*.

Perang 12 kali Beliau adalah bukti bahwa Beliau adalah seorang Panglima Perang yang handal.

Jadi kenapa masih anti pada *POLITIK* ?

*Indonesia ini dimerdekakan oleh perjuangan Ulama, mereka berPOLITIK !!*

Jadi kenapa masih anti pada *POLITIK* ?

Marilah kita jangan mau terbawa propaganda _ANTEK-ANTEK_ musuh yang mengatakan bahwa POLITIK ADALAH KOTOR.

Dia mengatakan itu untuk mengelabui kita, supaya kita lengah.

_Mengira kita akan aman-aman saja dan cukup hanya dengan sholat, mengaji, dan umroh !!_

*No*

Agama Islam bukan agama ritual belaka, keIslaman seseorang tidak dilihat dari keistiqamahannya dalam melakukan ritual.

Islam itu agama sosial. Kesalihan seseorang diukur dari seberapa banyak waktunya dihabiskan untuk, ber *AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR.*

Ingat kisah seorang saudagar yang sedang sakratul maut, saat malaikat Rakib dan Atid memperlihatkan catatan amalnya, timbangannya jatuh ke kiri, dosanya lebih banyak.

Namun akhirnya, malaikat Rakib dan Atid menemukan satu catatan kebaikan, yang akhirnya membuat semua dosanya terhapus dan timbangan kebaikannya menjadi sangat berat.
Apa amal itu ?

Tangisan seorang ibu yang berterima kasih padanya karena dia berikan makanan (dia sendiri belum makan, lalu dia tawarkan pada ibu dan anak-anaknya yang lapar).

Bagaimana kita bisa berharap lepas dari _RIBA_ kalau kita tidak ber *POLITIK* ?

Bagaimana kita bisa berharap Syariah Islam dijalankan bagi kita pemeluk agama Islam kalau kita _Anti_ pada *POLITIK* dan menganggap *POLITIK* adalah sesuatu yang berbau busuk dan menyengat ?

Sekali lagi, jangan pernah terbawa propaganda _ANTEK-ANTEK_ musuh yang mencoba mengubah _Mindset (pola pikir)_ kita.

Ingat, Islam mengajarkan kita untuk hablum minannaas dan hablum minallaah, ritual HARUS diaplikasikan dalsm kegiatan sosial (amar ma’ruf nahi munkar).

Sekian tahun umat Islam di negeri ini dijauhkan dari *POLITIK*, mulai dari cara halus melalui ceramah-ceramah bapak-bapak kyai, sampai cara kasar MEMPERTONTONKAN politisi Muslim yang (terduga) korupsi seolah-olah tidak ada yang Non Muslim yang korupsi, dan mereka SELALU MENGKAIT-KAITKAN dengan ajaran Islam.

Tapi kalau politisi Non Muslim yang korupsi, mereka buru-buru menutup berita, dan kalau ada yang coba-coba mengkaitkan dengan Agama, mereka buru-buru berteriak “GA ADA HUBUNGANNYA DENGAN AGAMA”.

Ayo saudaraku di jalan Allah, jangan anti pada *POLITIK*. Justru, 87% umat Islam ini harus ber *POLITIK*.

Kita harus mampu menentukan kemana rakyat ini harus dibawa.

Kita TAK BOLEH MENYERAH PADA TIRAN.

Sebagaimana para Nabi berjuang melawan tiran, kita pun kini beramai-ramai melawan tiran yang hendak _MENJAUHKAN_ kita dari Allah.

*POLITIK* bukan tabu, *POLITIK* itu suatu komponen kehidupan, kalau dia tak ada, hidup menjadi tak jelas mau bagaimana ?

Jangan ragu untuk bicara soal *POLITIK*, jangan minder juga, sebagaimana kita tak cerdas, demikian juga para _politisi_ yang saat ini ada, jadi kita punya wewenang informal untuk bicara, kan ?

Semoga kita ke depan lebih aware dan lebih melek politik.

Cukuplah tiran-tiran berkuasa, mari kita ciptakan suasana kondusif sehingga muncul *PEMIMPIN YANG SHIDDIQ, AMANAH, TABLIQ, FATANAH.*

Allahu 'alam...