Apr 20, 2007

Aku Rindu Kau, Ibu,,,

Akhir-akhir ini aku dihinggapi rasa rindu yang begitu deras menerpaku, tak tertahankan. Rindu pada seseorang yang padanya aku seolah ingin berlari saat ini juga, ingin hadir dihadapannya, ingin memintanya merengkuhku, dan ingin seketika merebahkan diri di haribaannya. Ingin merasakan jari-jarinya yang lembut, menyusuri tiap-tiap helai rambutku. Ingin merasakan setiap ruas di jari-jarinya yang penuh kedamaian, menyentuh setiap pori di kulit kepalaku. Ingin menikmati ketenangan masa kecilku.

Begitu menderu rindu menyergapku. Rindu pada ibuku.

Seketika aku ingin menyapa kerut-kerut di wajahnya. Rindu menikmati giginya yang makin jarang, tanggal satu demi satu seiring waktu. Rindu pupil matanya yang makin kabur dimakan usia. Rindu tawa terkekehnya, tiap kali aku mengajukan sebuah canda. Rindu sifatnya yang keras kokoh bagai batu tiap kali aku berdebat. Rindu bentakannya yang dulu kerap membuatku mengkerut. Rindu pada kesempurnaannya sebagai seorang ibu. Rindu sosoknya yang bagai malaikat pelindungku sejak aku bayi dan bahkan hingga kini. Kerinduan yang lengkap.

Di wajahnya aku seperti membaca riwayat panjang perjalanan yang penuh dengan keletihan. Jauh sebelum aku dan saudara-saudaraku lahir. Perjalanan yang ia mulai sejak kecil ketika Jepang pertama kali menjejakkan kakinya di bumi Andalas, ketika ia belum lagi mengenal pakaian untuk menutup tubuh dekil kecilnya yang kerap telanjang dada, ketika ia masih belia. Lalu dilanjutkan ketika masa kanak-kanaknya ia mulai ditinggalkan orang-orang yang seharusnya melindunginya satu demi satu, mulai dari ayahnya, lalu ibunya. Perjalanan yang membawanya ke Jakarta, untuk bernaung dibawah pengasuhan ninik mamaknya, suatu masa yang penuh dengan cerita jauh dari kebahagiaan.

Beranjak remaja dan dewasa, waktu demi waktu dijalaninya dengan peran sebagai seorang yang harus senantiasa survive, tak ada cerita masa remaja adalah masa yang paling indah. Waktu membawanya ke Bandung untuk kemudian menjalani tahap lain dari perjuangan untuk bertahan hidup disana. Tak ada pula cerita indah disana. Bahkan sampai ketika seorang pemuda sunda menyuntingnya, seseorang yang kemudian menjadi ayahku. Barangkali ada kisah cinta yang indah buatnya, tapi tak pernah ada cerita indah dia kabarkan padaku, kerap kali ia bercerita.

Ibu, yang kuingat darimu adalah kata-kata tentang kebahagian.. bahwa bagimu cukuplah kebahagiaan itu ketika melihat kami lahir, tumbuh, besar, sekolah… dan kami tak kelaparan! Cukuplah kebahagiaan itu bagimu ketika kami tumbuh menjadi anak-anak yang dewasa dan mandiri. Kokoh berdiri dalam kesederhaan kami!!! Cukuplah bagimu kebahagiaan itu ketika kami tak lagi mengenal apa arti kemiskinan dan kepapaan. Itulah kebahagiaanmu. Kebahagiaan yang sangat sangat sangat sederhana.

Di kerutnya aku seolah menangkap derita yang tak pernah kering, jauh dari kesenangan. Jauh sebelum ia memulai perjuangannya membesarkan kami, delapan bersaudara, dengan tangan dan kakinya sendiri.. tangan-tangan yang kini ringkih. Dengan tenaganya yang seperti matahari, tak henti terpancar. Dengan langkahnya yang seperti bumi, tak pernah henti berotasi.. tak pernah langkahnya terhenti. Di kerutnya aku melihat rumah megah yang dulu kami huni, tempat kami lahir satu per satu, nyenyak dan nyaman merasakan kasih sayang, melewati masa kanak-kanak.. dalam keriangan. Lalu rumah megah itu harus berpindah tangan, ketika ayah –satu-satunya sandaran yang ia miliki, kembali ke haribaan Yang Kuasa. Dan kau memulai lagi perjuangan berat yang sesungguhnya tak pernah sempat kau tinggalkan.

Kau besarkan kami dalam kebersahajaan. Kau teteskan darah dan keringatmu agar setiap saat tetesan darah di raga kami penuh dengan energi. Agar darah di raga kami mengalir dan menjaga kami tetap hidup, tumbuh dan terus tumbuh.

Ya Tuhan, betapa aku sangat merindukannya. Betapa aku sangat menyayanginya.

Betapa ingin memelukmu saat ini. Perasaan yang makin membuncah tiap kali menikmati ribuan wajahmu yang kini seakan menjadi mozaik yang menceritakan tentang rangkaian perjalananmu, sesuatu yang sebenarnya bermakna lukisan kehidupanku!

Aku rindu kau, Ibu…

Mar 29, 2007

I miss my father.. I love my mother...


Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Last night I suddenly miss my father. I miss him so bad. This happened since yesterday morning when i went to bandung with my younger brother. We are planning to open one simple-small kafee. We did survey for the place. Then we were discussing about what the name of the kafee is gonna be. My bro said that he wants to use 'Kafe Bros' or 'Kafe Brothers'.. I was agree at the first time. But then I realize that since Bandung is the city where my father was born, I really want to use this moment to memorize him. I was thinking about using his name for our kafee.

I think about using the name of 'Kedai Kang Komar', 'Kedai AA' or 'Kedai Baraya' instead of english language.

Its not about naming what make me feel this way. Its all about longing for my father that fullfill my thought since last nite. God, I miss him so bad. I just realize that I lost him for a very long time.

Thirty years!

Yeah, thirty years I live without my dad besides me. I just realize that I have not enough memory about him as I only know him for a very short period. All the memories about him is only when I was in 4-5 age. Not really much! Its just like an uncomplete puzzle. I could hardly remembering of his face. Thing that I could ever seen in my mind is only when people burry him in the backyard of my grandpa's home in Lembang. There he was burried. There is the place I always visit everytime I miss him.

Last night I cryed.

Now I am crying again.

Jeezee... It makes me feel like I am a child again everytime I remember u, dad.. I love you, no matter how. Eventhough I could only see your face in a blurted picture, but I know that your face is exist in my face. Your body is my body. I have even the same tall like you. Your nose is now became mine. Your eyes, your mouth, your hair even your ear.. they are now still exist in me, in all over my body. Your blood is in my blood. Haaa, that's why I feel now that you're so close to me. That's why I miss U, dad.

Hey, Dad.. Do you know that Raka, Romy and Meymey have part of yours in theirs? Raka's eyes and nose are like yours. Romi's chin is yours. Meymey's eyes is yours. And funny thing is they even have the same ear like yours, like mine. Hahahaha...


I feel better now.

I hope no matter how bussy you are in your place now, you can still thinking of me. I'll promise to protect all sister n brother and mom as well, day. She is fine. She is amazing mom and wife, Dad. She never think abt other man beside u. I can tell u no matter how hard she had to took care of us, she did it all alone by her self. And she did it very well to raise us. Now we grew up well. I love her so much. I called her just now dad and she is doing fine. Just about to sholat. I believe she always pray for you.

You take care, okay? I'll pray for you too so you could rest in peace. No hard and painfull day.

Allright. Catch you later.. I miss you so much, Dady.


Your forever kidos...
Mali

Mar 1, 2007

Nyanyian Pantai Laut Biru

Seseorang pernah bertanya padaku, seperti apa gerangan pantai yang bernyanyi. Aku tak menjawabnya, selain melayangkan seutas senyum. Memang tak perlu kujawab karena ia memang tak memerlukan jawaban. Juga tak perlu kuterangkan, karena ia bukanlah laut. Juga bukan pasir-pasir yang menjejali batas antara daratan dan lautan. Cukuplah bagiku untuk mengetahui nyanyian pantai dengan bahasa yang kumengerti sendiri, dengan telingaku sendiri. Karena akulah lautan biru, sedang pantai adalah bagian dari jiwaku. Maka ketika aku mendengarkan nyanyian pantai, sesungguhnya itu adalah bagian dari suara jiwaku. Nyanyian pantai adalah nyanyianku.

Barangkali ada nun jauh disana, di ketinggian yang tak pernah dapat kujangkau, seseorang yang menggantungkan jiwanya di langit biru. Seseorang dengan siapa aku bisa berbagi rasa, bernyanyi bersama, saling bersahutan lewat bahasa yang sama di cakrawala. Bahasa yang diwakili oleh satu warna. Biru.

Kedalamanku adalah ketinggiannya. Biruku adalah pulasan warna yang dia pantulkan dari kebiruannya. Maka jika aku membiru, seperti itu pulalah jiwanya. Dan ketika ia kelabu, maka suram pulalah jiwaku. Kelam dan kelabu.

Dan jika seseorang bertanya seperti apa nyanyian pantai, maka itu berarti dia memang tak bisa memahami aku. Dan memang aku tak pernah berharap seseorang akan bisa memahami jiwaku. Karena cukup bagiku menatap jauh di ketinggian langit biru, dan memintanya untuk berkaca di biru lautku, dan aku yakin seketika ia akan bisa memahami aku. Mendengar nyanyianku.

Nyanyian pantai laut biru.