Mar 17, 2015

No Body is Perfect (1)


Bismillahir Rahmaanir Rahiim


Seringkali kita dengar pepatah barat yang mengatakan "No Body is Perfect", Tak ada seorang pun yang sempurna. Pepatah ini serupa dengan Pepatah arab yang mengatakan "Al insaanu mahallul khotho wan nissiyaan". Manusia itu tempatnya salah dan khilaf. Pepatah-pepatah ini menunjukkan bahwa, kita, manusia, adalah sesuatu 'yang tidak sempurna'. Bukanlah manusia kalau kita mengharapkan manusia sempurna. Dan ga mungkin kita mengharapkan kesempurnaan pada manusia.

Manusia itu tempatnya khilaf. Karena kekhilafannya manusia kerap berbuat salah, dan karena kekhilafannya juga manusia sering berbuat dosa. Kesalahan adalah wujud perbuatan yang tidak sesuai dengan norma, ketentuan dan aturan. Dan dosa adalah konsekuensi dari perbuatan salah kita atas kesalahan kepada Rabb, Allah SWT.

Khilaf menurut definisinya adalah keliru atau salah, dan kekhilafan adalah kekeliruan atau kesalahan. Kita bisa khilaf karena berbagai hal. Bisa karena lalai, lupa, teledor, alpa dan sejenisnya. Menurut sifatnya, khilaf bisa karena kita sengaja dan bisa juga tidak kita sengaja. Khilaf yang kita sengaja adalah sesuatu perbuatan salah yang kita tahu dan dasari adalah perbuatan salah, namun tetap saja kita lakukan. 

Dalam konteks hubungan kita dengan Allah SWT, Allah telah menentukan perintah dan larangan, sebagai pedoman hidup bagi kita manusia. Perintah adalah sesuatu yang harus kita patuhi dan laksanakan, dan larangan adalah sesuatu yang harus kita indahkan dan jauhi. Perintah dan larangan tersebut menjadi satu kesatuan hukum dan ketentuan serta ketetapan yang kita sebut sebagai syariat. Kekhilafan kita --yang membuat kita kerap melanggar perintah dan larangan Allah SWT-- tersebut lah memiliki konsekuensi berupa dosa. 

Dosa-dosa yang terus terjadi dan kerap kita lakukan ini memiliki rekaman atau catatan yang menjadi catatan dan rekam jejak hidup kita dan kelak akan diperhitungkan. 


Allah Swt dalam al-Quran berfirman:

﴿ما یَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَیْهِ رَقیبٌ عَتیدٌ﴾

Tiada suatu ucapan pun (baik atau buruk) yang diucapkannya (seseorang) melainkan ada di dekatnya Raqib dan Atid (malaikat pengawas yang selalu hadir). 
(Qs. Qaf [50]:18)

Jika kita bisa sejenak mengintrospeksi diri dan menengok diri kita ke belakang, barangkali kita akan takjub dan terkejut menyadari bahwa betapa banyak dan seringnya kita berbuat kekhilafan, dan dosa.

Ketika remaja, mungkin kita berpikir kita adalah sosok manusia tak berdosa (sehingga kita sering menyebut seorang remaja sebagai 'innocent'), dan yang selalu berbuat kebaikan. Mungkin kita pernah berharap bahwa kita tidak akan pernah berbuat kesalahan atau kekhilafan yang berdampak pada dosa yang besar. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika kita menyadari diri kita saat ini, kita sungguh-sungguh akan terkejut. Jika kita bisa dan mampu mengingat-ingat lagi kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan selama ini, sungguh kita tidak akan pernah menyangka bahwa kita ternyata mampu dan telah melakukan apa-apa yang dulu mungkin kita pikir mustahil untuk kita lakukan. Apa saja. Apa saja yang mungkin pernah kita lakukan. 

Terlepas dari kebaikan-kebaikan yang mungkin pernah dan ada kita lakukan, coba lah kita ingat-ingat kembali dan mengintrospeksi diri sendiri. Kita mungkin akan menangis, menyadari ternyata begitu banyak hal-hal yang salah atau kekhilafan yang kita lakukan dalam hidup ini. Kekhilafan dalam konteks hubungan kita dengan manusia, maupun dalam hubungan kita kepada Allah. 

Memang karena sifat manusia yang penuh kekhilafan itulah, maka sudah menjadi fitrah manusia untuk berbuat kesalahan, berbuat dosa. Oleh karenanya, tak ada hal lain yang terbaik untuk kita lakukan setelah menyadari segala kekhilafan dan dosa kita selain beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Dan, jangan bersedih. Sesungguhnya Allah akan selalu mendengar permohonan ampunan hambanya yang bersungguh-sungguh. 

No Body is Perfect!

Wallahu a'lam bishowaab.
Ramz 
(Mar 2015)

No comments: