Mar 13, 2015

Today's Thought: Tauziah Jumat tadi siang


Assalaamu 'alaikum ww.


Innal hamdalillaah nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu wana’udzubiillah minsyuruuri anfusinaa waminsayyiaati a'maalinaa... Man yahdihillaah falaa mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah.. Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
[Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya]
Khutbah Jumat siang tadi sangat menarik. Topik khutbahnya memang merupakan salah satu yang sering kita dengar. Namun, barangkali seringkali juga luput dari perhatian kita.

Khutbahnya berawal dari tema tentang kematian. Kematian, katanya, sesungguhnya merupakan salah satu jadwal -atau schedule- dari sekian banyak jadwal perjalanan kita yang pasti akan kita jalankan. Namun tak seperti hal yang lain, Kematian merupakan satu jadwal yang tidak pernah bisa kita ketahui. Tak seperti berbagai agenda perjalanan kita, kematian merupakan satu agenda yang selalu kita hindari, meski sesungguhnya menghindarinya adalah sia-sia.

Bahwa manusia berasal dari tanah, itu adalah kebenaran. Namun kita terkadang suka salah kaprah. Karena perjalanan manusia pada hakekatnya adalah bukan "Berasal Dari Tanah, Lalu Kembali Menjadi Tanah". Tidak. Sama sekali tidak. Bahwa perjalanan manusia adalah berasal dari tanah, dilahirkan, dipinjami waktu, lalu Kembali... menghadap Sang Khaliq untuk mempertanggung jawabkan apa yang diberikan kepada kita.

Dari berbagai tahapan perjalanan yang akan kita lalui, yakni mulai dari rahim, dilahirkan sebagai manusia, menjalani alam barzakh (alam penantian), lalu dibangkitkan di yaumul qiamah, lalu dihisab di yaumul hisab (padang Mahsyar) dan menempati tujuan akhir kita di yaumul akhirat... dengan hanya memberikan 2 (dua) opsi Destination Point, yaitu Syurga... atau Neraka.

Terkait dengan perjalanan ini, kata sang Khatib, kita manusia, selalu hanya memikirkan bekal hidup... untuk di Dunia. Apa yang akan kita makan besok. Bagaimana bekal pendidikan untuk anak-anak nanti. Bagaimana kita membangun rumah impian. Bagaimana kita menjalani hidup yang serba berkecukupan. Tapi satu yang sangat penting dan sering terlupakan, adalah bagaimana bekal ketika kita harus menghadap ILLAHI.

Dari keseluruhan tahapan perjalanan kita tersebut, ada satu tahapan yang sesungguhnya kita harus menyadari bahwa kita akan merasakan sesuatu yang menyakitkan, yaitu Yaumul Hisab atau Yaumul Mahsyar, hari dimana kita semua, akan dikumpulkan untuk diperhitungkan segala amal-amal kita selama hidup di dunia. Hari itu adalah hari dimana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. 

Pernahkah kita membayangkan kondisi seperti ini. Hari dimana tiada naungan kecuali naungan-Nya? Bayangkanlah ketika kita tengah berada di tengah lapang, di siang hari, ditengah terik matahari yang membakar dan menyengat, tanpa alas kaki, tanpa pakaian pelindung dan... tanpa ada satu pun naungan yang bisa kita gunakan untuk berteduh dari sengatan matahari. Semoga kita bisa menganggap bahwa kondisi ini bukanlah kondisi yang "enteng" dan "sepele".

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda: 

"Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: 

  1. Pemimpin yang adil;
  2. Remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa;
  3. Seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid;
  4. Dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya;
  5. Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: “sesungguhnya saya takut kepada Allah”;
  6. Seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan 
  7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadist tersebut, saya berusaha menemukan penjelasan satu per satu yang dimaksudkan pada 7 point diatas.


1. Pemimpin yang adil. Pemimpin di sini bisa saja presiden, gubernur, bupati, camat, lurah atau kepala rumah tangga (suami). Karena setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai Allah swt. pertanggungjawabannya kelak. Untuk itu, seorang pemimpin harus bertindak adil sehingga semua orang yang dipimpinnya bisa merasakan pelayanan yang maksimal dan penegakan ketentuan yang benar.
Semoga kita bisa menjadi yang termasuk dalam golongan ini. Amin yra.
2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan (ibadah). Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan. Pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah adalah yang terselamatkan di hari kiamat. Sebagaimana kisah Ashabul Kahfi (Para pemuda Kahfi) yang menghindari kezaliman penguasa untuk menyelamatkan aqidah mereka.
Semoga kita, atau anak2 kita yang telah dewasa, bisa menjadi termasuk ke dalam golongan nomer 2 ini. Amin yra.
3. Seorang yang hatinya terikat dengan masjid. Orang yang tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal sholeh, terutama sholat fardhu berjama’ah. Hatinya selalu ‘risau’ bila jauh dari masjid, dan merasa sedih bila tak bisa mendatanginya di waktu-waktu sholat berjama’ah dan ketika majelis dzikir diadakan.
Semoga Allah selalu menggerakkan hati kita, agar senantiasa mau tanpa ragu, membelokkan kendaraan kita ketika tengah dalam perjalanan pulang kantor, lalu tiba waktu sholat Maghrib atau Isya. Amin yra.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah. Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Bila dua orang saling mencintai karena masing-masing selalu menjaga kecintaannya pada Allah, bertemu dalam kerangka mengingat Allah dan berpisah dengan tetap dalam dzkir pada Allah maka keduanya akan selamat di hari kiamat.
5. Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan kaya dan cantik tetapi ia menolak dan berkata “Aku takut pada Allah”. Sebagaimana kisah nabi Yusuf as. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan karena tanda dari Allah maka keduanya akan bermaksiat sehingga Yusuf berkata: “Ya Allah, lebih baik hamba dipenjara daripada harus bermaksiat kepadamu”. Sesuatu yang saat ini mungkin sangat jarang ditemui.
6. Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tau apa yang diberikan oleh tangan kanan. Amal yang disertai dengan keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal oleh Allah swt. Keikhlasan adalah hal yang sulit dan karenanya hanya orang-orang yang ikhlas saja yang tidak akan disesatkan oleh syaitan.
7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesunyian sehingga meneteskan air mata. Dzikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi makhluk hidup, ketika seseorang tidak lepas dari dzikir baik di siang maupun di malam hari maka seolah makhluk hidup yang selalu bisa bernafas bebas. Mengingat Allah hingga meneteskan air mata adalah sesuatu yang sulit, kecuali bagi orang yang hatinya telah lunak oleh hidayah Allah. Sebagaimana ciri orang beriman, ketika mendengar kalimat Allah maka bergetarlah hatinya dan ketika mendengar Al Qur-an maka bertambahlah iman mereka.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam salah satu atau seluruh golongan tersebut diatas.
Wallaahu a'lam bish-showaab
Billaahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu 'alaikum ww

No comments: